Renungan: Indah

Rubi, permata, emas, perak, dan golongannya itu memang indah.
Berkilau lagi menyilaukan mata.
Membuat siapa saja yang memandangnya berbinar.
Tanda ingin memilikinya.

Begitu pun dengan bulan.
Walau bercahaya di tengah malam, sesungguhnya permukaannya berlubang.
Melambangkan tragedi yang telah menimpanya,
menggambarkan betapa ia telah lama memendam luka yang kemudian membekas.

Kalau begitu, bukankah benar berbahaya mengumbar sesuatu yang berharga kepada yang bukan miliknya?
Ibaratnya permen yang telah dibuka pasti akan diserbu para semut hingga tiada sisa,
sedangkan permen yang masih terbungkus rapi hanya dilewatinya saja.
Tidakkah kita mengerti akan makna yang disampaikan Allah?

Manusia dapat tunduk dan setia pada hawa nafsu.
Mengesampingkan akal sehat.
Tergila-gila akan dunia.
Dikiranya ia akan hidup selamanya, padahal semua ada batasnya.

Ketika engkau mengumbar auratmu kepada non mahram,
adzab dan godaan setan itu akan menghampirimu tanpa kau sadari.
Dikiranya engkau dapat ditaklukkan hanya dengan perkataan-perkataan gombal yang melalaikan hatimu.
Dikiranya engkau perempuan yang dapat dijadikan “kekasih sesaat” tanpa adanya komitmen hitam diatas putih.

Ayolah, muslimah!
Ketika engkau menjadi muslimah yang shalihah, maka engkau akan menjadi salah satu perhiasan dunia yang paling indah!
Kecantikanmu lebih berpijar dibandingkan logam mulia dan model-model papan atas dunia!
Memandangmu begitu menenangkan hati akibat air wudhu yang membasahi wajahmu setiap waktu.

Jangan anggap remeh perintah-perintah dan larangan Allah!
Bukankah kita telah dewasa dan diberi akal untuk membedakan kebaikan dengan keburukan?
Bukalah matamu dan banyaklah ber-istighfar
Sudahkah kita menjadi muslimah seutuhnya?

Iklan