Diam (Antara Ilmu & Akhlak)


Aku diam termenung sendiri dan lagi aku merenung. Sekilas, seperti tenggelam dalam lautan manusia. Namun, kalbuku lah yang menenggelamkanku perlahan menjelajahi pikirku. Baik angan, impian, harapan, keluhan, dan perencanaan.

Kemana kelak semua ini berujung? Tak taulah aku akan hal yang benar-benar membingungkan logika dan naluriku ini. Sebab aku hanyalah seorang manusia dengan akal yang terbatas. Seluas-luas ilmu yang ku punya hanyalah setetes air samudra. Bisa jadi kurang dari itu, bisa jadi setetes air terlalu berat untuk ku pikul.

Ada apa gerangan dengan mereka yang diberi ilmu? Dulu, orang-orang cerdas benar-benar merendah dan mengatakan ilmunya masih kurang. Etika dan akhlak dijaga betul. Lisan, pendengaran, penglihatan, dan kemana kakinya melangkah begitu terarah. Tak mau ada kata sia-sia dan hidup, bekerja, serta menimba ilmu pun diniatkan untuk beribadah.

Lalu, sekarang? Silakan dinilai sendiri apakah begitu perilaku kaum cendekiawan yang seharusnya budiman dan dapat memajukan masyarakat juga bangsa dengan pengamalan ilmunya. Apakah masih ingat akan dosa? Apakah kejujuran itu benar-benar dipegang teguh? Apakah masih ingat akan ibadah? Apakah lupa bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui?

Mana yang lebih engkau pilih? Kaya ilmu atau kaya akan akhlakul karimah? Seringkali kita membangga-banggakan nilai bagus dalam ujian dan rapor, namun tak mengindahkan akhlak yang kelewat bobrok. Betapa mirisnya.

Sudah banyak orang yang otaknya diatas rata-rata dan dinilai pintar (dalam bidangnya), tetapi masih sedikit yang berakhlak dan meniatkan apa yang dilakukannya sebagai ibadah kepada Allah. Ayolah manusia! Bolehlah engkau sangat-sangat bangga akan ilmumu jika tiada dosa akan ujub (berbangga diri). Nyatanya ada, karena itu janganlah engkau menutup mata dan mengagung-agungkan standar akademik. Sesungguhnya, kita hanya diberi ilmu dengan kadar yang sangat sedikit oleh Allah.

Allah itu Maha Adil. Disaat jalan yang satu tertutup, maka akan dibukakan jalan lain yang dinilai-Nya lebih baik bagimu. Maka tetaplah ceria dan percayalah kepada-Nya. Yakinlah kau pasti bisa dengan usaha, do’a, dan restu.

Ingatlah bahwa apa yang ada dunia ini tak akan kekal, sebab sifatnya hanya sementara. Sedangkan dengan bekal akhlakul karimah maka dunia dan akhirat ada pada genggaman tanganmu. Berbesarlah hati dan bersikaplah rendah hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s