[CERPEN ISLAMI] Dialog Ramadhan-Lebaran

Layaknya tahun-tahun sebelumnya, pasca shalat Ashar ini dimanfaatkan Ramadhan untuk singgah ke kediaman Lebaran. Ia ingin berbincang-bincang. Tidak hanya mempererat tali silaturahmi, namun ada sebab-musabab lain yang menurutnya perlu dibahas bersama.
Ramadhan: (mengetuk pintu) “Assalamu’alaikum…”

Terdengar suara langkah kaki mendekat dan semakin dekat. Ramadhan yakin, kalau itu pastilah Lebaran. Kawan lamanya yang senantiasa ceria dan sumringah.
Lebaran: (membuka pintu sembari menguap) “Wa’alaikumus salam…” (mengucek mata). “Oh, Ramadhan! Silakan masuk… Duduk-duduk dulu.”
Ramadhan: (beringsut duduk dengan senyum menghiasi wajahnya)
Lebaran: (menutup pintu) “Saya buatkan teh dahulu, ya. Kamu tunggu sebentar saja.”
Ramadhan: “Terima kasih. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Lebaran: (duduk di seberang Ramadhan) “Ah, saya merasa konyol sekali. Lupa kalau sekarang masih waktunya berpuasa. Mohon maafkan saya.”
Ramadhan: “Tak mengapa. Engkau tentu tahu bukan, dengan adanya aku dihadapanmu adalah pertanda bahwa waktuku kian menipis.”



Lebaran menundukkan kepalanya. Ia tahu betul bagaimana perasaan Ramadhan kini. Sudah lama mereka saling mengenal dan bergantian mengisi dunia. Ditunggunya apa yang akan dikatakan Ramadhan selanjutnya. Tapi setelah sekian lama yang tak ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya ada hening yang tercipta.
Ramadhan: “Hmmm…” (menghela napas). “Seandainya saja aku adalah engkau, pasti aku sangatlah senang sepanjang tahunnya.”
Lebaran: “Mengapa, kawan? Mengapa kamu mengucapkan hal yang tak mungkin?”
Ramadhan: “Itu sangatlah mudah. Kau seharusnya bisa langsung tepat sasaran dalam menerkanya.”
Lebaran: (berpikir keras) “Saya tak melihat suatu hal yang dilebihkan Allah atas dirimu pada diriku.”
Ramadhan: “Pikirkan tentang cara mereka menyambutmu! Tidakkah engkau melihat mereka sangatlah senang dan bersuka cita? Tiada pernah aku melihat kegembiraan yang penuh gegap gempita setelah Rasulullah berpulang. Kedatanganmu menebarkan kebahagiaan yang hampir serupa dengan kaum Anshar dahulu, kala menyambut Rasulullah dan rombongannya di Madinah.”
Lebaran: “Lantas mengapa? Tidakkah mereka juga seperti itu terhadap kamu?”
Ramadhan: “Tidak. Kau sangatlah salah. Mereka mengorbankan sepuluh malam terakhirku untuk memikirkanmu. Shalat tarawih mereka tinggalkan. Pasar terpadati dengan usaha hawa nafsu yang kian meronta untuk dipuaskan karena terkekang selama kurang lebih tiga minggu. Mereka berlomba-lomba disitu, sehingga lupa kewajibannya sebagai hamba Allah. Mengakhirkan shalat, tak jarang melalaikannya. Melupakan sahur, padahal sahur termasuk sunnah yang dianjurkan. Kemudian, mudik melalaikan hati, jiwa, dan pikiran bagi mereka yang masih lemah imannya. Aku sedih. Di akhir waktuku mereka teperdaya akan dunia kembali, layaknya tiada manfaat yang dapat mereka ambil dariku. Aku serasa tiada makna dan tiada arti di dunia ini.”
Lebaran: “Sudahlah, kawanku. Bersyukurlah. Ini sudah takdir, tiada gunanya pula kamu mengeluh. Jangan pula berandai-andai, itu merupakan jalannya setan menyesatkan pikiranmu. Sebagai muslim, sepantasnya kita berserah diri kepada Allah. Berusaha dan bertawakal juga. Padamu, saya sarankan untuk bersabar.”

Ramadhan termenung. Ia tak memungkiri kesalahannya. Sepatutnya istiqamah, yang mana baru saja dilanggarnya dengan mengeluh. Lagipula siapa yang dapat menentang kehendak Allah? Seorang ahli maksiat sekalipun tak akan mau menjadi salah satu dari sebagian besar hamba yang durhaka kepada-Nya.
Ramadhan: (menggelengkan kepala) “Astaghfirullah…”
Lebaran: “Insyaa Allah, Sang Khalik mengampunimu.”
Ramadhan: “Aamiin yaa rabbal ‘alamiin. Aku akui, aku memang khilaf.”
Lebaran: “Kita semua diberi nikmat yang sepadan oleh Allah. Malah, sebenarnya saya yang ingin menjadi seperti kamu.”
Ramadhan: (terkejut dan memandang Lebaran tanpa berkedip)
Lebaran: “Memang, saya senang di kala waktu saya tiba… banyak orang menyebarkan kebahagiaan, umumnya berupa materi. Baju baru, dan segalanya yang baru. Uang dibagikan kepada anak kecil dan THR sudah pasti cair. Zakat fitrah dibagikan pada golongan yang berhak. Tak ketinggalan, ada shalat Idul Fitri segala. Orang yang bertamu disuguhi makanan dan minuman yang lezat. Rasa lega juga hadir saat bersua dengan sanak saudara yang sudah lama tak jumpa. Mereka dapat berkumpul lagi berbagi apa pun itu yang dapat menorehkan senyuman. Kedatangan saya ialah tanda bahwa seseorang masih diberi cukup umur dan ditangguhkan waktunya di dunia. Dengan adanya saya, Allah benar-benar memberikan kebahagiaan kepada setiap insan tanpa terkecuali.”
Ramadhan: (mengernyitkan dahi) “Lalu, apa alasannya sehingga kau ingin berada di posisiku? Padahal, aku lihat raut wajahmu bergitu bersinar. Kebahagiaan mereka terpancar begitu aku menjumpaimu setiap tahunnya.”
Lebaran: (tersenyum) “Hehehe… Saya belum selesai bercerita. Yang membuat saya bersedih adalah waktu saya yang sebentar, satu hari. Paling lama tujuh hari, mengingat euforia umat. Sementara waktumu sangatlah panjang. Satu bulan khusus untukmu, bahkan Allah menetapkanmu sebagai salah satu di antara bulannya. Begitu utamanya dirimu, sehingga pahala yang ada dilipat gandakan sebanyak sepuluh kali lipat. Banyak orang rela bangun malam untuk sahur dilanjutkan shalat Subuh. Ini karena Allah mewajibkan puasa Ramadhan. Dari Imsak sampai Maghrib, menahan nafsu diiringi memperbanyak amal perbuatan. Ada pula shalat Tarawih, walau hukumnya sunnah; dimana siapa yang melaksanakannya secara berjamaah diganjar pahala layaknya shalat semalam suntuk dan diampuni dosanya yang telah lalu. Kamu punya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Letaknya misterius, sekitar sepuluh hari terakhir. Barangsiapa yang mendapatkannya sangatlah beruntung.”
Ramadhan: (mengangguk-angguk) “Aku tahu sekarang. Kau menyebutkan segala keutamaanku. Pastilah kau berharap dapat memilikinya, bukan?”
Lebaran: “Tentu saja. Di kala dirimu menggantikan Sya’ban, manusia berlomba-lomba. Membagikan takjil gratis, bersedekah, menunaikan zakat. Kata-kata dan senyumannya berpahala, ialah do’a tanpa disadarinya. Mereka berlomba-lomba dalam kesederhanaan, karena mereka juga merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan golongan fakir miskin. Sepatutnya mereka lebih bersedih akibat kepergianmu. Kapan lagi dosa akan lebih mudah terampuni? Kapan lagi waktu panen pahala dilapangkan seluas-luasnya? Miris, sungguh miris. Saat waktu saya menggantikanmu, mereka khilaf dan memperturutkan hawa nafsu. Pamer dan bangga ke sana-sini dengan congkaknya. Sepertinya mereka tidak menyadari bahwa apa yang kini ada pada diri mereka itu hanyalah titipan Allah semata, dan sesungguhnya semua akan kembali kepada-Nya.  Belum tentu aku akan menyapa mereka tahun depan. Bisa jadi Malaikat Izrail mendahuluiku dan mencabut nyawa mereka. Atau, Allah menetapkan hari akhir sehingga usai sudah kehidupan di bumi dan alam semesta. Tiada yang tahu pasti, tiada jaminan. Semua rahasia Ilahi.”
Ramadhan: “Sudah jelas bagiku. Bahwa sebagai hamba-Nya, sesempurna apa pun yang terlihat pasti ada kekurangannya sekalipun sekecil zarrah. Hanya Allah lah yang Maha Sempurna lagi Maha Kekal.”

Lantunan surah Ar-Rahman membius kalbu siapa pun yang mendengarnya. Ramadhan sadar diri dan sadar akan waktu. Begitu pula Lebaran yang menyadari dirinya telah berada di ambang pintu dan bersiap mengetuk hati serta pikiran segenap insan.
Ramadhan: “Saudaraku, saatmu telah dekat. Waktuku akan usai.”
Lebaran: (bangkit, duduk di sebelah Ramadhan dan menggenggam tangannya) “Bagaimana pun, saya akan selalu menghormatimu. Akankah kita bertemu lagi?”
Ramadhan: “Kita hanya bisa berharap, Allah yang menentukan.”
Lebaran: “Jika memang waktu masih diperkenankan untuk hadir dan kamu termasuk di dalam jalinannya, temuilah aku lagi…”
Ramadhan: “…tetaplah menghias diri dan kediamanmu seindah-indahnya; sekalipun itu sesederhana senyuman, gelak tawa, puji syukur, dan kalimat thoyyibah. Wassalamu’alaikum…”
Lebaran: “Wa’alaikumus salam…”

Azan Maghrib menggema dalam kelembutan nan syahdu. Ramadhan telah hilang, raib begitu saja secepat kedatangannya. Tiada terasa genggaman tangannya, apalagi pelukannya yang telah menemani selama sebulan sudah. Terima kasih atas tahun ini, dimana aku masih bisa diberi kesempatan sehingga kita dapat berjumpa barang sejenak. Biarkan aku menjumpainya lagi, jika memang itu yang terbaik bagiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s