Renungan #01: Mukadimah Ramadhan

Ramadhan. Marhaban Yaa Ramadhan.


Alhamdulillah deh, guys! Kita jumpa lagi sama yang namanya Ramadhan. Semoga kita senantiasa diberkati rahmat dan berkah oleh Allah beserta rasul-Nya, ya…

Gimana nih, kabar kalian, sob? Pada baik semua, kan? Aamiin… Atau ada yang sakit? Tetap semangat! Insyaa Allah, hari esok lebih baik daripada hari ini.

Cuma mau ngingetin dan of course bikin self reminder kalo Ramadhan adalah bulan transformasi umat Islam. Dalam bulan ini, kita diupayakan  BERUBAH! Ya elah… jadi Transformers gitu, ya? Bukan, lah! Bulan Ramadhan nggak ada kaitannya sama robot-robot itu.

Berubah disini arinya dari segi akhlak dan penampilan. Kita akan bahas itu nanti. So, idealnya bulan Ramadhan ialah bulan transformasi umat Islam menuju arah yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.



Apa yang terjadi di Ramadhan 1439?

Sekedar info, Ramadhan 1439 cukup berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Buat yang nggak aware sama penanggalan Hijriyah mungkin adem ayem aja. Secara gitu lho, penetapan 1 Ramadhan cenderung mengikuti ketetapan pemerintah bagi orang awam.

Hilal nggak kunjung terlihat. Maklum deh, cuaca mendung akibat pancaroba jadi penyebabnya. Alhasil kabar yang santer terdengar kalo puasa dimulai Rabu, 16 Mei 2018 terbukti hoax. Kemenag dalam siding hari Selasa, 15 Mei 2018 yang dihadiri juga oleh ormas-ormas Islam menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1439 jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018. Bahan pertimbangannya a dalah tidak terlihatnya hilal di 32 titik pantau selama jalannya persidangan.


Kamu keren jika berpuasa Ramadhan

Yap! Orang yang puasa itu keren. Why? Well, puasa itu nggak sekadar menahan lapar dan haus. Hawa nafsu juga harus ditahan. Yakni menahan marah, menahan perkataan buruk, menahan syahwat, dan semacamnya. Orang yang berpuasa tambah keren jika diniatkan untuk menjadi lebih baik dan melatih diri meninggalkan kebiasaan buruk.

Di bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu dan pintu tertutup rapat. Sementara pahala dilipat gandakan 10 kali lipat dan pintu surga terbuka lebar. Memang perkara dasar, namun seringkali kita lupa. Atau ada yang baru tau.

Mengutip muslim.or.id (dengan beberapa perubahan), soal setan dibelenggu ini ada beberapa penjelasan:

  1. Setan dibelenggu tapi masih bisa mengganggu dan membisikkan ide bermaksiat. [Imam al-Baji]
  2. Setan dibelenggu hanyalah kiasan sebab keberkahan dan ampunan Allah yang melimpah selama bulan Ramadhan. [Imam al-Baji]
  3. Setan yang dibelenggu adalah setan kelas kakap (maradatul jin), setan kelas biasa masih bisa membisikkan maksiat. [Fatwa Syakabah Islamiyah]

Selain itu, banyak pula para ulama yang memahaminya secara tersurat semata. Dikatakan juga bahwa maksiat terjadi karena hawa nafsu manusia yang nggak terkontrol. Wallahu a’lam.

Perkataan yang bersumber dari hadits ini pasti benar adanya, guys. Jika penafsiran sebagian besar ulama memang benar adanya, you’re amazing! Hawa nafsu diri sendiri dikalahin. Godaan setan yang begitu menggodanya udah nggak mempan. Keep up your good work!

Jadi buat golongan manusia yang masih memelihara perkataan “Orang puasa tuh cuma nahan laper ama haus doang”, maafkan daku namun jelasnya ucapan kalian itu sangatlah salah. Kita semua dalam masa training, dimana sang pelatih (bahasa kekiniannya: coach) ialah Allah. Malaikat jadi reviewer-nya. Sesama trainer, ayolah kita saling menyemangati ke arah yang lebih baik. Meraih kemenangan bersama. Bukannya mengecilkan hati dan saling menjatuhkan layaknya cara syaithon.


A drastic positive transformations begins!

Tegasnya: TRANSFORMASI POSITIF.

Dengan Ramadhan yang udah datang mengetuk pintu hatimu dan memelukmu dengan mesranya sampai sekitar sebulan ke depan, do’i mengharapkan dengan kedatangannya ini kamu jadi lebih baik sebagai hamba Allah untuk ke depannya. Cieeeeeee… Syukur deh, kita ketemu lagi sama si Ramadhan. Habis, dia perhatian banget, sih.
Pilihannya sekarang ada di tanganmu:

  1. membiarkan si do’i berlalu begitu saja tanpa pemberian yang berarti (padahal niatnya baik, lho!)
  2. menghargai perjumpaan dengannya, berusaha dan melakukan yang terbaik.

Sorry, ngerti kalo sebagian besar dari kita lagi ada ujian di sekolah. Tapi, ini urgent! Perkaranya ada di depan mata dan kamu harus milih sekarang. Detik ini juga. Katanya nunggu si Ramadhan sampe hampir setahun… Masa’ do’i udah ada tepat dihadapanmu malah dicuekin? Nanti kalo ditinggal nyari-nyari lagi. Nangis lagi.

Oke, hak asasi emang berlaku di Indonesia. Terserah kamu mau milih yang mana. Pilihlah yang sekiranya kamu anggap paling benar dan paling menguntungkan. Oleh karena itu, saya sangatlah yakin bahwa mayoritas hadirin memilih pilihan B.

Sip, deh! Memilih bagian dari usaha. Terdapat niat disana. Dengan pilihan A, niatnya adalah stay ‘apa adanya’ tanpa berupaya memperbaiki diri. Pilihan B menyuarakan perubahan yang cukup drastic bagi diri kita ke arah yang lebih baik dalam beramal. Kita diberi akal untuk memilih dan memilah.

Setelah menetapkan pilihan, masukkan ke dalam otak. Ke dalam database memori. Hayati dengan perasaan. Rekamlah momen ini, bahwa sekarang kamu bertekad untuk merealisasikan pilihanmu itu. Hidupmu perlahan mengalami perubahan.


Akhlak dan Penampilan

Dua perubahan yang paling nampak dari diri manusia ialah akhlak dan penampilannya. Walaupun berbeda, keduanya saling berkaitan. Penampilan bisa jadi memengaruhi akhlak. Bedanya, akhlak pasti memengaruhi penampilan. Pengubahan akhlak ibarat makeover sesungguhnya dan tahan lama asalkan dipelihara oleh siraman keimanan.

Kok bisa seperti itu? Tentu bisa. Kita ambil contoh dua orang pria. Pria pertama sebenarnya tampan, namun ia tidaklah berilmu kecuali sedikit sekali. Tidak suka menjaga kebersihan. Sukanya bermalas-malasan. Tiada usaha untuk kehidupan yang lebih baik. Marah bila ditegur. Tidak pernah sholat pula. Kerjanya meminta-minta di jalanan, mengharap belas kasih orang-orang yang melintas.

Pria kedua biasa-biasa saja, namun berilmu. Suka menjaga kebersihan. Dapat membagi waktu antara perkara dunia dan akhirat. Kritik maupun saran dianggap sebagai masukan. Rasa lelah itu memang ada, tapi tiada hasil tanpa tindakan yang dijadikannya acuan.

Saya mengajak kalian untuk memilih lagi. Pria pertama mungkin mempunyai keunggulan berupa fisik yang diutamakan masyarakat kebanyakan. Sayang, tabiat buruknya menjerumuskan ke dalam neraka dunia. Ini gambaran orang yang lebih sering menuruti hawa nafsunya.

Pria kedua tergolong langka. Bisa jadi dia orang terdekatmu atau anggota keluargamu. Rupanya mungkin seperti pria pada umumnya. Yang istimewa adalah beberapa sikap baiknya. Ini gambaran orang yang lebih condong dan mengikuti hati nurani.

Perubahan yang sering kali dikeluhkan adalah karena gengsi, pamer, dan ingin mendapatkan pujian. Kita nggak berhak su’udzan saat seseorang memakai atau menampakkan suatu hal bagus pada dirinya. Karena segala perbuatan ada niatnya dan seorang hamba akan mendapatkan balasan sesuai apa yang diniatkannya. Kalo berani, silakan tegur. Nasehati agar mengubah perilakunya.

Intinya begini: sifat kesenangan pemuasan hawa nafsu hanya sementara. Lebih banyak sengsara dan derita yang diterima penghamba hawa nafsu. Setelah mencapai apa yang diinginkannya maka ya sudah, sampai disitu. Yang penting ialah keinginannya semata, orang lain biarkan saja. Tak jarang yang diinginkan selanjutnya adalah hal yang lebih lagi. Hawa nafsu tak bisa dipuaskan dengan mudah, dan memang tak akan bisa dipuaskan seutuhnya. Nggak bisa dipungkiri kalo hawa nafsu itu ada dalam setiap diri manusia. Jika dikontrol, tidak akan kita mengalami sebagaimana yang terjadi pada pria pertama.

Dengan akal dan hati nurani, kesenangannya tahan lama. Tuntunan yang ada pada Islam tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, juga untuk kemaslahatan umat. Jika nggak ngelakuin yang namanya kebaikan, nggak akan tenang. Ini yang jadi keharusan buat kita. Sebab, hati nurani condong pada perintah Allah. Akal juga ngerti kalo kita puasa, aktif membedakan antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Keduanya modal kita dalam menjadi khalifah bumi dan menunaikan tugas kita sebagai hamba-hamba Nya.


Penghayatan

Jangan heran kalo kebanyakan orang pada berubah di bulan Ramadhan. Yang dulunya jorok tampil klimis. Yang cemberut jadi tebar senyuman. Yang malas berusaha rajin. Cuma satu alasan yang tepat. Semua sedang mencari ridho Allah dan melaksanakan perintah-Nya.

Lagian, setan jauh lebih jinak dan pengaruhnya dalam membisikkan maksiat nggak segencar bulan-bulan lainnya. Orang-orang banyak berbuat kebaikan yang memang fardhu ‘ain untuk dilakukan dalam mengisi bulan penuh berkah ini. Masih ada beberapa yang menghakimi mereka yang puasa karena belum paham akan hikmah di baliknya. Slow, men! Lebih baik berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ada niat disitu ada jalan. Niatmu baik maka kebaikan yang kamu peroleh. Memilih yang paling bisa mengantarkan kita pada tujuan sebenarnya puasa, yaitu transformasi positif per tahunnya.

Akhlak pasti memengaruhi penampilan. Perbaguslah akhlakmu maka penampilanmu akan ikut menawan pula. Janganlah silau dengan propaganda bahwa cantik itu hanya berdasarkan tampilan luarnya saja. Mengendalikan hawa nafsu itu perlu agar tetap sesuai dengan koridor agama. Bentengilah diri dari biskan setan. Gunakan akal dan hati nurani.


Segala amalan kuncinya adalah ikhlas.

Lakukan semampu dan sebisamu.

Selain kuantitas, perhatikanlah kualitas ibadah kita.

Tak butuh yang namanya materi dan penghamburan waktu, yang terpenting ialah ketulusan hati.

Insyaa Allah, amal ibadah kita diterima Allah swt.

Aamiin yaa rabbal ‘alamiin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s