Dinaungi Kezaliman

Kita berada di akhir zaman. Di mana keadaan menjadi kacau. Tak tentu arah kemananya. Kita mencari dan menanti keadilan untuk menunjukkan taringnya, namun tak jua ia berkehendak.



Palestina juga saudara kita. Sebagai sesama manusia. Saudara dalam satu hal yang khusus dan tak terbantahkan: keimanan. Kesedihan Palestina adalah kesedihan kita semua.

Jujur, tidakkah kau mendengarnya? Berita menyayat hati berisikan penderitaan masyarakatnya menghiasi bermacam media. Tertindas oleh Kaum Zionis (Israel) yang semakin kuat akibat dukungan sebuah negara adikuasa Amerika Serikat.

Dengan pongah dan angkuh, Israel semakin gencar mendera Palestina. Tak kenal ampun. Apalagi negeri Paman Sam terang-terangan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Kaum Zionis tersebut. Nusantara telah bertindak nyata. Mengampanyekan dan mencari dukungan sepenuhnya kepada negara-negara Muslim lainnya. Sementara tetangga dekat macam Arab Saudi, Mesir, Iran, dan Iraq cenderung pasif, bukannya masif. Padahal dulunya, negara-negara tersebut siap membantu dan bahu-membahu jika saudaranya diserang serta disakiti.

Ini menunjukkan kadar keislaman telah memudar dan luntur. Hanya ada namanya, namun tiada usaha untuk menjalankannya. Mulai tampak egoisme. Muncul sebuah stereotype: selama diri ini susah, mengapa harus meresahkan yang lain?

Miris, sungguh miris sudah. Dimana HAM yang katanya memperjuangkan hak asasi semua manusia?  Bagaimana dengan Tentara Kedamaian PBB yang biasanya dikirim untuk menyelesaikan perang tanpa banyaknya pertumpahan darah? Tak cukupkah korban berjatuhan akibat kesewenag-wenangan Israel? Tak cukupkah harga diri warga Palestina tercabik-cabik, dilecehkan secara besar-besaran? Kutipan pembukaan UUD 1945 ini rasanya bisa menegaskan semua yang telah mereka alami itu tidak seharusnya terjadi: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”

Mental, jiwa, raga, wilayah, perekonomian , industri, pendidikan, dan harga diri mereka telah terjajah. Kaum Zionis itu tak sedikitpun menaruh rasa belas kasihan. Masyarakat Palestina dianggap sebagai objek, bukannya manusia. Diperlakukan ibarat benda mati, walupun bernyawa. Menganggap Palestina dan seluruhnya lemah. Tiada balasan atas perbuatan kejamnya. Yang ada, malah dukungan memilukan.

Jangan bungkam! Bersuaralah dan lakukan sebisamu! Kita satu. Kita rasakan pula sakit itu. Rasa sakit yang pilu hingga menggores hati.

Berbuatlah dengan tangan bila mampu. Kecamlah dengan lisan yang lebih tajam dibandingkan sebuah silet. Beri tau semua orang tentang peristiwa yang tak patut ini. Ajaklah sebanyak mungkin untuk terlibat memperjuangkan kemerdekaan saudara kita. Menulislah, karena goresan pena dapat membuat orang lain merasakan emosi yang kita tuangkan di dalamnya. Untaian kata akan sangat bermakna bagi mereka yang bersembunyi ketakutan, mengharapkan keadilan memainkan perannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s