Tebak, Sekarang Hari Apa?

Saudara-saudari, kita jumpa lagi dengan tanggal 22 Desember! Ada yang lupa hari ini hari apa? Ckckckck… Kok bisa-bisanya lupa? Ya… Kecuali kamu tinggal di belahan dunia lain kali, ye…



Hari Ibu nih, Sob! Haha… Hari dimana masyarakat se-Indonesia mengingat kembali cinta kasih ibunya masing-masing (seharusnya tiap hari seperti ini). Yo’i, men… Coba, deh! Tambahin umurmu sekarang dengan 9 bulan 10 hari (lamanya kandungan). Selama itulah kasih ibu telah menyelimutimu. Keren banget, kan? Udah gitu, beliau tak jemu-jemu lagi ngurusin anaknya yang satu ini.

Eh, by the way, kalian pada tau nggak, asal muasal Hari Ibu? Mengutip tirto.id, Hari Ibu dideklarasikan pertama kali dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 di Jogja, tepatnya di pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Jayadipoera. Selain itu, pada tanggal 22 Desember 1953, dalam peringatan Kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No. 316 tahun 1953, Presiden Soekarno menetapkan setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai: Hari Ibu.

So, kalo dipikir-pikir, Kongres Perempuan Indonesia ini nggak jauh beda selang waktunya dengan Kongres Pemuda II. Yap! Siapa sangka dua peristiwa ini dapat menjadi momen yang bermakna? Apalagi dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden tersebut. Kamu pasti baru tau, kan? Aku juga. Hehe. (Peace…).

Okay. Enough tentang sisi sejarahnya. Fiuh… Kilas balik dan napak tilas emang menarik buat dibahas. But, it’s time to go back to the present.

Sesungguhnya, Hari Ibu itu sendiri digunakan untuk mengenang jasa para perempuan yang juga berjuang untuk merebut kekuasaan dari tangan penjajah. Yeeeee… Emang cuma laki-laki doang yang bisa? Perempuan juga bisa! Girls power gitu, lho!!!

Okelah, okelah… Soal fisik, perempuan memang kalah. Tapi kalo soal batin, gagasan, kesabaran, dan ketelatenan bisa diadu, kok. Kaum Adam pada berani nggak, kalo udah kayak gini? Atau langsung ngacir malahan?

Well, keberagaman suku, ras, dan budaya menyebabkan panggilan Ibu tidak hanya satu macam dan terpaku pada ‘Ibu’ semata. Mama, Mami, Bunda, Emak, Mbok, Bune, Nyak, dan sebagainya adalah kata pengganti Ibu. Atau mungkin, kamu punya panggilan sayang lain untuk memanggil Ibumu? Bisa jadi. Who knows?

Bagaimanapun, tetaplah berdo’a untuk beliau.
Bagi yang masih punya Ibu, bersyukurlah.
Berarti, masih ada kesempatan buatmu untuk membahagiakan dan membuatnya bangga atas dirimu.
Masih ada kesempatan untuk melepas rindu.
Masih ada kesempatan untuk sekadar bertukar kabar.
Masih ada kesempatan bagi beliau untuk melihatmu meraih kesuksesan dan menggapai cita-citamu.
Masih ada kesempatan pula,
untuk berbakti kepadanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s