Watch Out!

“Yuk, sholat Dhuhur!” ajakan Riza membuatku terpana. Cepatnya hari ini berlalu. Berarti, dua jam setengah lagi sudah waktunya pulang. Yeay!

“Oke, deh! Yuk!” dengan riangnya, kami melangkah menuji musholla sekolah. Mengambil wudhu, juga sangat beruntung bisa mendapat sholat jamaah.

“Assalamu’alaikum warahmatullah…
Assalamu’alaikum warahmatullah…”

Salam dilanjutkan dengan dzikrullah. Memuja dan memuji-Nya. Mengistirahatkan pikiran dari urusan dunia. Menentramkan hati dan memusatkan diri hanya kepada Allah semata.

Riza mengulurkan tangannya kepadaku. Kini kami saling berjabat tangan. Masing-masing menyuguhkan senyum terbaiknya. Karena kami menyadari bahwa sesama muslim adalah saudara. Saudara yang disebabkan oleh satu kesamaan, satu keyakinan. Percaya dan ibadah hanya untuk Allah SWT.

Ku lipat mukenaku. Mukena ini memang tidak berwarna dan tidak bercorak macam-macam seperti halnya mukena kebanyakan orang. Sederhana, dengan warna dominan putih dan jahitan kuning di tepinya. Motifnya cuma beberapa bunga kuning yang bisa dihitung dengan jari. Tapi istimewa dan sangat berarti untukku. Mukena terusan satu potong ini kubeli dengan uang saku yang sudah ku kumpulkan sejak lama. Masih teringat dengan jelas di benakku. Rp 75.000, namun sudah dapat menutupi dan menyamarkan bentuk tubuh.

“Bbhukk!” tangan Riza tak sengaja mengenai bawah bawah bibirku.
Sorry, sorry, sorry,” Riza memelukku dari samping kanan. Ku sentuh bawah bibirku. Sakit sekali. Nyut…nyut…nyut…

“Nggak apa-apa kok, Riz,” ucapku dengan susah payah. Aku meringis kesakitan.

Sorry banget lho, ya…,” dilepaskannya pelukan itu secara perlahan. Ia memandangku dengan iba.

“Beneran kok, nggak apa-apa,” kami bangkit, melangkah keluar musholla.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Riza terus-menerus meminta maaf atas pukulan yang tidak disengajanya tersebut.

“Aku nggak nyalahin kamu kok, Riz… Mungkin ini teguran dari Allah untuk menjaga perkataanku. Menjaga lisanku,” kataku dengan tenang. Lagipula, rasa sakit itu sudah tidak seberapa.

“Beneran, kamu nggak nyalahin aku?”

“Nggak. Mending diambil pelajarannya aja dari peristiwa tadi.”

“Iya juga, ya…



Percaya atau tidak, kejadian di atas merupakan kisah nyata. Salah satu cerita hidup saya yang paling berkesan, yaitu: nggak sengaja digampar sama temen habis bubaran sholat Dhuhur di musholla sekolah. (Namanya sengaja diganti demi kepentingan bersama).

Terkejut, tertegun, tercengang, dan kesakitan bercampur menjadi satu.

Awalnya, rasa nyeri itu mendominasi. Bahkan, saya sempat menitikkan air mata juga, lho…
Perih. Memang nggak berdarah, lebam, ataupun membekas.

Ya, saya menganggap ini sebuah peringatan dari Allah untuk saya. Anjuran-Nya menggunakan lisan untuk berbuat kebajikan dan taqwa; bukannya keburukan, dosa, dan permusuhan.

Tampaknya, Allah memberi hidayah untuk mengamalkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Yang pertama kali terlintas di benak saya kala itu adalah: adakah postingan blog yang kurang pasntas untuk disertakan lagi?
Setelah saya cek, ternyata ada tiga postingan yang sudah tak layak baca.
Dengan semena-mena, ketiganya saya campakkan ke dalam tong sampah.
Say goodbye, deh!

Saya pun merasa kalau saya harus memaafkan orang yang telah menyakiti hati saya.
Pada detik itu juga, saya bertekad untuk menyelesaikan setiap masalah dan lepas dari bayang-bayang masa lalu.

Life must go on,
so am I.

Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Terima kasih ya Allah.

Setidaknya, ada hikmah dan keteladanan yang bisa saya petik dari insiden tersebut.


Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukan kamu apakah Hutamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

QS. Al-Humazah

Jagalah lisanmu, kawan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s