Beda Bapak, Beda Kebijakan

Indonesia sedang kacau-kacaunya. Bagaimana tidak? Masyarakat mengaduh, namun pemerintah tampak tenang-tenang saja. Hal ini terjadi hampir di semua bidang, khususnya pendidikan. Ada yang bilang, fenomena ini adalah kisruh akibat pemerintahan Jokowi. Benarkah demikian?

Mari kita telisik lebih dalam lagi. Dalam beberapa tahun ini, sudah berapa kali Indonesia berganti Menteri Pendidikan? Mulai dari Mohammad Nuh, Anies Baswedan, hingga kini Muhadjir Effendy. Program dan kurikulum yang dicanangkan ketiganya pun berbeda. Kadangkala, kebijakan Menteri sebelumnya yang baru saja berjalan tiba-tiba diberhentikan dan diganti dengan kebijakan yang baru.

Contohnya Anies Baswedan. Menteri yang menjabat dari 2014-2016 ini memberhentikan K-13 (Kurikulum 2013) secara mendadak. Padahal, terdapat pendidikan karakter yang mendidik para siswa agar terhindar dari perbuatan asusila dan tawuran. Sementara, program full day school Muhadjir Effendy (mulai menjabat 2016) mendapat beragam respon dari masyarakat. Tagar #TolakFullDaySchool dan #Tolak5HariSekolah sempat merajai trending topic di Twitter. Ada yang menyebut bahwa beliau mengabaikan kenyataan banyaknya siswa yang sepulang sekolah masih membantu orang tua. Bahkan, kalangan alim ulama resah akibat desas-desus ditiadakannya pelajaran agama.

Pengubahan kebijakan yang terkesan semena-mena ini membuat kondisi di lapangan menjadi tak menentu. Hampir setiap tahun ada revisi buku pelajaran, menggantikan buku-buku sebelumnya yang tidak “layak” pakai. Setelah di telaah isinya, banyak kesamaan antara buku revisi dengan buku sebelumnya. Ada juga yang sama tiada perubahan, hanya “berubah” sampulnya saja.

Guru-guru tampak kebingungan. Program ini baru jalan sudah ada program baru lagi. Apalagi para siswa. Mendengar program full day school masih dalam proses, mereka santai saja masuk sekolah. Nyatanya, program ini langsung diberlakukan. Baik guru mau pun siswa, sama-sama pusing tujuh keliling dan lelah karenanya.

Beberapa waktu yang lalu, dengan isengnya saya bertanya ke beberapa teman tentang pendidikan di Indonesia. Mayoritas setuju bahwa pendidikan di Indonesia belum baik dan merasa keberatan dengan kurikulum yang berlaku. Salah seorang di antaranya mengatakan bahwa warga sekolah membutuhkan lebih banyak sarana dan pra-sarana. Program full day school diperbaiki lagi. Katanya tidak ada PR, namun PR tetap ada. Hasil yang dirasakannya dari program tersebut hanyalah lelah.

Memang, pendidikan di Indonesia butuh perubahan. Tapi, perubahan yang positif dan realistis. Apa gunanya jika program tersebut sangat bagus, tetapi tak bisa di terapkan di lapangan? Hasilnya nol besar.

Alangkah baiknya jika bangsa ini mempunyai keinginan dan pikiran untuk maju. Merombak pendidikan dan membuat korelasi yang harmonis antara masyarakat dengan pemerintah. Sehingga guru bisa mengajar dengan gembira dan siswa bisa belajar dengan semangat.


Termasuk salah satu artikel yang di ikutsertakan dalam bulan bahasa SMANeLa 2017; Oktober 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s