Akankah…

Catatan:
“Cerita berikut terinspirasi dari kisah nyata. Kisah seorang teman yang sengaja dirahasiakan namanya untuk menjaga privasi. Nama-nama dalam kisah ini disamarkan, tidak sesuai dengan kejadian sesungguhnya. Adegan-adegannya dibuat lebih dramatis. Jika ada kesamaan nama, waktu, dan tempat, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Harap dimaklumi. Selamat membaca…”


Hari itu sama seperti hari-hari lain. Dengan asyiknya ku bercengkrama dengan teman-teman. Beda kelas, beda suasana. Bagi seorang gadis yang masih ingusan, aku tak mengira hal itu akan datang. Di tahun ajaran baru lagi.

Aku tak ingat berapa umurku saat itu. Sekitar 9-10 tahun, yang pasti aku baru kelas 3 SD. Tiba-tiba, sosok itu muncul dari balik pintu. Bergegas dan menggeletakkan tasnya di salah satu bangku. Seorang cowok. Wajahnya belum pernah ku lihat sebelumnya. Anak baru. Kira-kira siapa namanya, ya?

“Assalamu’alaikum, anak-anak…,” Pak Tomi masuk ke dalam kelasku.
“Wa’alaikumsalam…”
“Kebanyakan dari kalian pasti sudah kenal nama saya. Bagi yang belum tau, nama saya Pak Tomi. Saya yang akan menjadi Wali Kelas kalian tahun ini. Selain itu, kita kedatangan murid baru disini. Yuk, nak! Silahkan!”
Cowok itu melangkahkan kakinya ke depan kelas dan mulai memperkenalkan diri. Tampak malu-malu. Aku tersenyum kecil setiap mengingatnya. Amir, Amir… Betapa lugu dan culunnya dirimu di kala itu.

Kehadiran si Amir ini pada awalnya sangat menggangguku. Ia begitu cerdas. Sangat pintar dan jenius. Tidak seperti anak lelaki kebanyakan yang cenderung malas dan tidak memedulikan nilai pelajaran. Menonjol, mengusik, namun membuatku tertarik. Cinta monyet yang tanpa disadari tumbuh dan diam-diam menguasai hatiku.

Yang paling menyebalkan, ketika harus bersaing dengannya untuk menyongsong kelulusan. Di atas kertas, dia memang rivalku dalam memperebutkan nilai UN terbaik. Bayangin! Bangkunya sering dikerubuti sama cewek-cewek yang selain minta diajari juga memanfaatkannya untuk caper! Gimana aku nggak ngerasa jengkel coba? Kesal, karena kerap dibanding-bandingkan satu sama lain, sementara di lain sisi disebabkan oleh rasa dongkol akibat melihat cewek-cewek itu mengelilinginya.

Masa kanak-kanak telah berlalu, masa remaja mulai menyapa. Bisa dipastikan bahwa Amir satu SMP denganku, tapi mengapa aku tidak melihat batang hidungnya sedari tadi? Jangan-jangan, dia pindah ke luar kota… Eh, kok aku mulai gelisah tanpa kehadirannya?

“Hei, Mia!” suara itu… suara yang ku kenal betul adalah miliknya.
“Hei juga…”
“Kamu sekolah sini juga?” tanya Amir berbasa-basi.
“Ya jelaslah! Gitu aja kok ditanyain…,” jawabku, merasa tergelitik di dalam hati.
“Baguslah, seenggaknya ada yang kenal satu dua disini. Mia, aku duluan ya… Kapan-kapan kita sambung lagi,” ucapnya seraya melangkah menjauh, dengan iringan senyumku yang semakin merekah.

Selang 2 tahun berlalu, tibalah saat untuk berjuang lagi. Mempertaruhkan nilai, sama dengan mempertaruhkan harga diri untukku. Siapa yang nggak kepengen keterima di SMA unggulan? Pada ngiler semua pastinya.

“Mia,” sapaannya membuyarkan konsentrasiku. Lagi-lagi Amir. Tentu saja, bagaimana bisa aku melupakan makhluk yang satu ini? Dua tahun di SMP ini membuat kami semakin akrab.

“Makasih ya, udah ngasih saran kumpulan soal ini. Kamu emang cewek paling baik di dunia!” aku tersipu, seakan tak percaya dengan perkataannya. Apakah pipiku merona sekarang? Duh, betapa malunya diriku ini…

“Eh… malah bengong,” dijentikkannnya jemarinya di depan wajahku. Sontak aku terkejut. Udah gitu dia malah nyengir lagi… Tapi kok kelihatan manis, ya?

“Ngelamunin apa? Hmmm… Cowok, ya?” godanya, tetap cengangas-cengingis kayak kuda di tengah sawah.
“Mau tauuuu ajaaa…,” Amir cemberut. Aku tertawa. Manjanya itu, lho…
“Eh, Amir! Aku boleh tanya, nggak?” sebuah ide gila terlintas di kepalaku dan aku merasa harus bertanya kepadanya. Ekspresinya berubah, tampak lebih serius. Sejenak seperti berpikir keras.
“Boleh.”
“Ngomong-ngomong, kamu suka siapa?” sekilas dapat kurasakan matanya melirik ke arahku.
“Nggak, nggak…,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
“Nggak apanya, Mir?”
“Aku lagi nggak suka sama siapa-siapa. Kalo bener aku suka, aku pasti bilang lah ke kamu,” jawaban Amir ini membuatku lega. Masih ada kesempatan untuk memastikan bahwa perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.

Namun, apakah perkataannya itu dapat dipertanggungjawabkan? Aku tak tau. Amir tak menunjukkan gelagat yang aneh. Aku masih tetap disapanya, masih disuguhkan senyuman indah setiap harinya. Aku pun tak tau, apakah dia mengerti akan rasa ini atau tidak. Haruskah ku ungkapkan semua yang tersimpan dalam hati? Yang jelas aku sangat menikmati saat-saat bersamanya. Aku ingin terus seperti ini.

“Mia! Mia!” teriak Amir sambil mengejarku dari ujung koridor. Langkahku terhenti, menunggunya mendekat. Sudah sekitar tiga minggu kami tak berbagi cerita. Apa lagi hal seru yang akan diceritakannya hari ini?
“Ada apa? Kok kamu kelihatannya seneng banget?” tanyaku ketika dia sudah berada di hadapanku. Napasnya tersenggal-senggal, tapi kegembiraan itu tampak begitu jelas di wajahnya. Wah, wah, wah… apakah gerangan yang terjadi kepadanya?
“Aku berhasi, Mia! Aku berhasil!” sorakannya menimbulkan tanya di kepalaku.
“Emangnya kenapa coba?” Amir cemberut. Aku semakin heran. Bahagia memang melihatnya dapat tersenyum seperti ini. Tapi mengapa aku mempunyai firasat buruk tentang hal ini? Ah, tidak-tidak… Ini pasti kabar yang sangat menggembirakan. Maka aku juga harus gembira, apapun yang kudengar.
“Aku berhasil nembak Sonya,” blarr! Petir seakan menyambar. Mendadak, hatiku diliputi oleh mendung. Mendung yang kelabu. Jantungku seperti berhenti berdetak.
“Sekarang kita resmi pacaran,” serasa terbangun dari mimpi, aku terkejut bukan main. Mulutku menganga. Rasa sakitnya menghujam jantungku.
“Mia, kamu nggak apa-apa, kan?” aku merasa hampa. Lalu, apa arti semua ini? Semua waktu dan pikiran yang telah ku curahkan untuknya seorang?
“Nggak, nggak. Selamat ya, Mir! Aku juga ikut senang,” ku paksakan untuk tersenyum. Walau getir rasanya.
“Kamu nggak minta PJ ke aku?” ku tundukkan kepala sejenak. Kuangkat lagi, menatap wajahnya. Senyum itu masih disana. Tatapan hangat itu masih disana. Kata-kata manis itu masih terucap olehnya. Namun, ada satu yang hilang. Hatinya telah dimiliki oleh seseorang… yang aku tau, lebih bermakna baginya dibandingkan denganku.
“Oh, Pajak Jadian, ya? Emmm… nggak, deh. Lebih baik uangnya kamu simpan aja buat hal yang lebih penting,” tampak gurat kekecewaan melintas di matanya. Aku berusaha untuk tersenyum, sekaligus menenangkan hatiku. “Amir, aku duluan, ya… Udah sore, nih. Assalamu’alaikum.”

Berat, berat rasanya untuk merelakan seseorang yang begitu engkau sayangi untuk membagi kasihnya dengan orang lain. Bukan dengan dirimu. Air mata itu tertahan, lalu bertumpah ruah di kala aku merana. Apakah perasaan ini salah? Bukankah cinta itu adalah sesuatu yang suci? Sesuatu yang seharusnya membuatku bahagia dan dapat membuat hari-hariku menjadi lebih bermakna.

Setiap hari di sekolah hanyalah ketidakpastian. Kadang menyenangkan, saat Amir meluangkan waktu untuk sekadar berbicara kepadaku. Menyiksa, karena kini, aku sering melihat Amir dan Sonya mengumbar cinta yang sedang bersemi di antara mereka. Inikah yang disebut cemburu? Begitu menyayat hati, mengakibatkan pilu?

“Amir,” panggilku, tepat di sebelah bangkunya. Di angkatnya kepalanya, menatapku.
“Boleh aku bicara sama kamu?” dia tertawa kecil.
“Tentu,” ku balas senyumannya. Namun, perlahan kesenangan itu memudar. Sonya dan teman-temannya melintas di depan kelas. Amir buru-buru mengejarnya.
“Sonya, aku rasa kita perlu bicara,” kata Amir saat Sonya berada tepat berada di hadapannya. Sonya tersenyum sinis. Di gelengkannya kepalanya.
Sorry, Mir. Aku lagi sibuk. Kamu tau kan, aku banyak urusan. Yang dipanggil guru, disuruh ini-itu. Aku sampai belum makan lho, dari tadi. Belum lagi belajar buat UN. Malam Minggu aja ya, kamu ke rumahku. Yuk, gaes,” ucap Sonya sambil berlalu menuju kantin dengan teman-temannya, meninggalkan Amir yang mematung di depan kelas.

Ku dekati Amir perlahan-lahan. Dia tampak sedih atas perlakuan Sonya terhadapnya. Wajahnya datar, tak berekspresi. Kasihan juga melihatnya seperti ini. Seandainya saja bukan Sonya, tapi aku yang diperlakukannya sedemikian rupa. Pasti, tak akan ku sia-siakan segala bentuk kasih dan sayangnya. Malah, akan ku balas hingga berlipat-lipat banyaknya. Sayangnya, itu hanya seandainya. Ya, seandainya saja.

“Mir, Amir… Amir!” sontak, Amir terkejut. Ditatapnya diriku. Lagi-lagi, dia tersenyum.
“Eh, Mia! Oh ya, kamu mau ngomong apa ke aku?” aku ikut tersenyum. Dalam situasi seperti ini, Amir masih dapat tersenyum. Sungguh lelaki berhati baja.
“Hubunganmu sama Sonya baik-baik aja, kan?” pertanyaanku membuat raut wajahnya berubah.
“Maaf. Aku seharusnya nggak tanya begitu ke kamu. Apalagi setelah…”
“Pastinya, everything is okay. Sonya emang gitu, sibuk. Udah jadi keharusan buat aku untuk memaklumi dan mendukungnya,” selanya. Aku tertegun. Perkataannya ada benarnya juga.

Tak hanya satu atau dua kali, tapi berkali-kali kulihat Sonya memperlakukan Amir seperti itu. Pacaran namun rasa PHP. Entahlah, pasti ada suatu faktor yang menyebabkan Amir tetap setia kepada Sonya dan tidak ingin pindah ke lain hati. Kira-kira, sama seperti yang kurasakan.

Sudah sekitar 8 tahun rasa itu menjalari pikiranku. Ya. Siapa sangka cinta monyet yang timbul akibat ketertarikan sesaat, dapat bertahan hingga sekian lama. Begitu banyak kenangan indah, lucu, seru, aneh, dan mengharukan.

Cintaku berakhir dengan tragis.
Kandas di tengah jalan.

Tanpa diketahui oleh sang pujaan hati,
bahwa aku telah menjadi pengagum rahasianya sedari dulu.

Aku rasa, ini sudah saatnya untuk melupakannya. Untuk merelakannya bersama dengan yang lain. Waktunya untuk mencari dan menanti cinta baru yang ada di luar sana.


Dear Amir,

Terima kasih telah mengajarkan berbagai hal kepadaku, membuatku merasakan banyak hal yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.

Beneran,
terima kasih untuk segalanya.

Yang terpenting,
terima kasih telah menjadi cinta pertamaku.

,Tertanda
Mia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s