Hello, Beautiful!

Hai, makhluk cantik bin cakep yang lagi baca tulisan ini

…lho?

Kok manyun???

Ada apakah gerangan?

—————————————————

—————————————————
Nggak bisa dipungkiri bahwa jarang rasanya kita mendengar perkataan tersebut dilontarkan di tengah-tengah masyarakat. Coba deh, tanya ke tetangga, teman-teman, atau siapa pun yang kamu temui! Pasti mereka juga mendapati hal serupa!!!

Definisi cantik

Apakah yang ada dibenakmu jika disuguhkan pernyataan di atas? Bayangan model, aktris, dan penyanyi yang sering nongol di layar kaca atau kembang desa dan primadona sekolah yang gampang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari? Kok kesannya terlalu menilai seseorang secara fisik, ya?

“Nggak! Kata siapa? Contohnya Putri Indonesia dan Miss Universe. Bukannya yang dinilai adalah 3B (Brain, Beauty, and Behaviour)?” sanggah Mama, Tante, bahkan teman-teman jaman SMP dulu.

Benarkah demikian? Masa’? Are you sure? Pikirin lagi, pikirin lagi… Udah yakin sama anggapanmu?

Pernah nggak melihat orang yang secara fisiknya (maaf) kurang, biasanya disebut cacat? Jarang bukan ada yang mengatakan bahwa dia itu cantik ataupun cakep? Paling yang memujinya hanyalah keluarga dan teman dekatnya, yang berharap dengan pujian tersebut dapat melambungkan hatinya juga membuatnya tetap percaya diri. 

Nggak pernah tercatat dalam sejarah tuh, kontes macam ini dimenangkan oleh wanita yang fisiknya terkategorikan kurang aduhai. Rasanya kecerdasan dan tingkah laku tidak menjadi fokus penilaian. Terbukti dengan adanya photoshoot, peragaan busana malam, hingga bikini catwalk. Hmmm… kalo tahap penyisihannya seperti itu sih, terang aja banyak wanita yang menjadikannya panutan dalam berbusana. Menampakkan lebih banyak kulit, sehingga pakaian yang dipakai terkesan menutupi sebagian kecil tubuh. Dibiarkannya terekspos, hanya untuk mendapatkan pujian sesaat. Dari namanya aja sebenarnya kita sudah bisa menilai, bahwa yang namanya kontes kecantikan itu yang dinilai adalah kecantikan fisik. Nggak perlu lah, ditambahi embel-embel lain. Toh, sama aja makna yang didapat.

Jadi, apakah cantik itu melulu dilihat secara fisik?

Sayangnya, begitulah anggapan masyarakat. Cenderung memuja dan memuji makhluk yang secara visualnya menyuguhkan tampilan yang ‘wah’. Entah itu ‘wah’ karena berani buka-bukaan, foto selfie hasil editannya tersebar luas di internet, atau memang do’i dengan mudah dianugerahi predikat cantik lewat parasnya yang apa adanya (baca: real, tanpa sentuhan efek kamera dan make-up berlebih). 

Namun, inilah yang menyebabkan kebanyakan orang mengejek dan menjauhi, bahkan jijik melihat wajah yang katanya ‘hancur tak berbentuk’ itu. Pemiliknya di-bully habis-habisan tiada henti. Terdiskriminasi hanya karena tidak memenuhi stereotype cantik yang ‘berlaku’ di khalayak umum. Semua gara-gara wajah, warna kulit, berat, dan tinggi badan yang jauh dari ungkapan ‘idaman para lelaki’.

Hal-hal aneh yang dilakuin untuk terlihat cantik

Mungkin saking pengennya terlihat ‘cantik’ dan dipuji oleh banyak orang, ada banyak hal diluar nalar dan nggak sepatutnya dilakukan oleh para perempuan. Alasannya, standar kecantikan dan kiblat fashion terus berubah dari masa ke masa. Berikut beberapa diantaranya:

  • Menggunakan korset yang diketatkan melebihi ukuran pinggang  dan dada. Gunanya untuk membuat badan terlihat langsing layaknya jam pasir. Akibatnya, banyak perempuan yang meninggal secara tiba-tiba karena sesak napas.
  • Masih satu era dengan korset, perempuan di jaman itu juga memakai kerangka yang membuat rok terlihat bundar, besar, dan lebar. Tujuannya untuk menyamarkan bentuk pinggang. Ada satu kejadian tragis yang terjadi pada abad ke-16 (tahun 1500-an). Dalam suatu kebaktian Minggu Gereja yang terletak di benua Eropa, sebuah penyangga lilin jatuh ke lantai dan menyebabkan kebakaran. Saking paniknya, mayoritas jemaat yang terdiri dari perempuan langsung berlarian dan berdesak-desakan menyerbu gerbang yang terkunci dari luar. Kebayang kan, dengan rok bundar dan lebar, pasti semuanya pada nyangkut dan sulit keluar? Banyak yang meninggal sia-sia, dilalap oleh api yang semakin ganas.
  • Tampaknya jaman Renaissance membawa banyak tren kecantikan yang cenderung berbahaya. Seiring dengan jatuhnya Konstantinopel, timbul tren baru di kalangan konglomerat yang melancong di Venesia. Yaitu memakai bedak yang sangat putih layaknya badut ulang tahun dan juga memulaskan warna-warna yang mencolok pada wajahnya. Ini semua karena tuntunan fashion kala itu yang sangat eksperimental dan banyaknya pesta-pesta mewah setiap malamnya. Mode dan penampilan tersebut mencapai puncaknya pada awal abad ke-18. Banyak dijumpai kerusakan pada wajah akibat menggunakan bedak putih tadi, yang tanpa pikir panjang dibubuhkan lebih banyak bedak oleh sang pemakai untuk menutupinya. Selang beberapa tahun setelahnya, bedak putih ini terbukti mengandung timbal (Pb) dan merkuri; dengan kata lain sangat beracun! Terang saja, wajahnya semakin rusak. Ibaratnya salah treatment… Hiiyyy…
  • Menggunakan parfum saja sebagai pengharum tubuh. Pasca ditemukannya eau de cologne di Köln, Jerman; nggak ketinggalan juga orang Prancis menciptakan eau de toilette dan eau de perfumme. Saking melambungnya harga parfum di kala itu, hanya kaum bangsawan yang mampu membelinya. Setiap hari mereka mengoleskan berbotol-botol parfum kepada tubuhnya daripada membiarkan kulitnya terkena sentuhan air dan sabun. Katanya sih, gengsi. Mandi itu hanya untuk orang melarat atau pekerja keras yang kesehariannya mengolah sawah dan ladang. Bahkan saat menghadiri jamuan makan malam dan pesta-pesta besar, tamu undangan yang ada seakan bergantian menyombongkan diri karena tidak pernah mandi. Gitu kok nggak ngerasa lengket ya, di sekujur tubuhnya? Secara nggak sadar sudah menginvestasikan diri menjadi sarang bakteri dan mengakibatkan tubuh rentan akan penyakit.
  • Di Cina, pernah berlaku tradisi foot binding (mengikat kaki) selama berabad-abad. Konon, saat sang Kaisar pergi melihat keadaan ramyatnya, ia menjumpai seorang wanita yang berkaki kecil dan langsung jatuh hati kepadanya. Terkesima, perempuan tersebut diboyongnya ke istana dan dijadikannya selir kerajaan. Tentu saja, masyarakat mulai mengikat kaki anak gadisnya saat berumur enam atau tujuh tahun dengan perban dan bambu agar kakinya tidak bertumbuh lagi. Selain itu, muncul anggapan bahwa gadis berkaki besar hanyalah pantas untuk gadis petani dan kalangan bawah. Selama sisa hidupnya, wanita berkaki kecil itu kesulitan untuk berdiri, berjalan, dan berlari sehingga harus tinggal di rumah sampai akhir hayatnya. Beruntung, kebijakan ini sudah tidak diberlakukan lagi sejak Dinasti Ming runtuh pada tahun 1911 akibat Revolusi Cina.
  • Pada akhir dasawarsa abad ke-19, timbul tren mengonsumsi cacing pita di Amerika. Iming-iming yang diberikan oleh propaganda tersebut adalah menjadikan tubuh langsing lebih cepat jika dibandingkan dengan metode diet lainnya. Benar saja, kaum hawa langsung gegabah mengikutinya. Memang, banyak yang badannya overweight dengan seketika perawakannya berubah kurus bagaikan model. Herannya, banyak yang meninggal tanpa sebab yang jelas. Misteri ini terpecahkan setelah sebuah penelitian tahun 1900-an menyatakan bahwa cacing pita ternyata berbahaya untuk tubuh karena dapat menggerogoti organ-organ dalam. Walau tren ini meredup, masih ada segelintir orang yang tetap melakoninya hingga saat ini.
  • Tahun 1910-an, warga Amerika dihebohkan lagi dengan kampanye penggunaan alat pembentuk hidung. Salah satu fungsinya membuat hidung bengkok menjadi mancung. Namun, hasil testimoni masyarakat berbanding terbalik. Banyak yang hidungnya malah berdarah, patah, dan semakin bengkok akibat menggunakan alat ini.
  • Buka-bukaan. Seiring mulai diakuinya pamor Hollywood pada era 1920-an, profesi entertainer dinilai menghasilkan keuntungan yang besar. Banyak artis, model, dan penyanyi yang terkenal dari masa ke masa. Terus apa hubungannya dengan buka-bukaan? Setiap era selalu mempunyai sex bomb-nya sendiri. Yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe, aktris beken era 50 hingga 60-an dengan aksi rok berkibarnya yang legendaris. Kemudian tercatat sejak tahun 1970-an, majalah lelaki dewasa Playboy digandrungi dan diburu. Seakan-akan para model yang fotonya terpampang di majalah tersebut membiarkan dirinya untuk ‘dinikmati’ oleh jutaan pasang mata yang ‘membutuhkan hiburan’. Tentu sudah bukan rahasia lagi bahwa industri blue film dipelopori oleh Amerika. Bahkan hampir semua film Hollywood seakan terimbas olehnya dan menyuguhkan adegan-adegan yang ‘menggoda’. Apalagi di jaman digital seperti sekarang ini, dimana banyak gambar dan video tidak senonoh yang bertebaran dan dapat diakses dengan mudahnya melalui internet, khususnya sosial media. Katanya wanita tak ingin dilecehkan. Sayangnya, perkara yang ada sudah lebih dari itu.
  • Operasi plastik (oplas), nama kerennya plastic surgery. Salah satu sebab tren ini mewabah dan menjangkiti masyarakat adalah mendunianya K-Pop. Siapa yang tak kenal SNSD? Hampir semua membernya melakukan oplas pada wajahnya. Tampaknya tak hanya artis Korea dan artis Barat, tetapi juga masyarakat umum yang menjadi pelaku oplas. Selain terobsesi ingin tampil secantik idola, juga ingin memperbaiki bagian-bagian wajah yang belum ‘sempurna’. Edannya lagi yang dioperasi tidak hanya wajah, tetapi juga daerah-daerah vital. Padahal, sudah banyak kasus oplas yang gagal dengan hasil operasi yang ‘mengerikan’. Dan parahnya masih banyak yang ingin melakukannya… Nggak ingat apa sama dosa yang sudah tercatat sedemikian banyaknya? Oh, tidak!
  • Memakai make-up berlebih. Berlebih di sini bisa berarti dua. Yang pertama adalah menor, ngalah-ngalahin ondel-ondel yang diarak ketika karnaval, membuat ngeri orang yang melihatnya. Yang lainnya, adalah make-up dengan menggunakan bermacam-macam produk dan terlalu banyak langkah yang menyebabkan rumitnya proses dandan. Yap! Oles ini, oles itu. Hasil mungkin bagus, tapi ya gitu, deh… Menyebabkan boros uang dan boros waktu. Sangat tidak efisien dan merepotkan.
  • Mengedit potret diri hingga tidak sesuai dengan aslinya. Hari gini nggak punya aplikasi editor foto? Apa kata dunia? Nggak terhitung, betapa banyaknya cewek yang ngeksis di sosmed dengan bantuan aplikasi yang dapat memaksimalkan kecantikan tanpa oplas ini. Banyak cowok yang ‘jatuh cinta’ dan ujung-ujungnya ngajak ketemuan. Terbayang akan bertemu dengan sesosok bidadari yang di nanti, yang ternyata parasnya tidak sesuai dengan harapannya. Akhirnya, do’i merasa tertipu dan menyesal hingga bergumam, “Cantik sih, cantik. Tapi hasil editan. Per-cu-ma!!!”.

Yuk, jadi cantik yang sebenarnya!

Merasa serem kan, dengan hal-hal di atas? Hehehe… saya juga. Dulu, saya menilai kecantikan seseorang berdasarkan fisiknya. Tetapi tidak setelah mengetahui ungkapan ‘Don’t judge a book by its cover’. Juga mendengar ayat Al-Qur’an, hadis Rasulullah, dan perkataan sahabat. Siap-siap buat terharu. Mari kita simak!

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

[QS Al-Hujuraat:13]

Subhanallah. Begitu sayangnya Allah kepada kita sehingga dengan diturunkannya ayat diatas memberikan kita pencerahan dan pengharapan untuk tetap teguh mencari ridho-Nya. Menyadarkan bahwa ternyata semua manusia sama saja di hadapan Allah. Terang saja, Allah tidak peduli akan paras yang dimiliki oleh hamba-Nya. Tetapi, yang bernilai adalah hati dan tingkat ketakwaan yang dimiliki.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji(pula); dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

[QS. An-Nur:26]

Cantik sebagaimana yang dikoar-koarkan selama ini bukanlah jaminan untuk mendapatkan jodoh idaman hati. Ingat Beauty and the Beast? Belle jatuh hati kepada si Buruk Rupa karena kebaikan hatinya. Makanya, mulai sekarang perbanyaklah amal kebaikan. Biar dapat pasangan hidup yang juga baik. Aamiin…

اَلْحَمْدُ ِللهِ، كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِىْ فَحَسّنْ خُلُقِىْ

AL-HAMDULILLAAHI KAMAA HASSANTA KHOLQII FAHASSIN KHULUQII.

Artinya:

“Segala puji bagi Allah, baguskanlah budi pekertiku sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa wajahku.”

Bacalah do’a diatas setiap kali bercermin. Rasa-rasanya, Allah ingin manusia senantiasa bersyukur akan penampilannya. Bukankah kita adalah makhluk Allah yang paling mulia? Telah disempurnakan-Nya perawakan kita tanpa kekurangan sesuatu apapun. Apalah beda kita jika dibandingkan dengan para selebriti? Sama-sama ciptaan Allah. Sama-sama perempuan. Yang membedakan hanyalah siapa yang lebih cantik akhlaknya.

Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”

(HR. Muslim)

Tuh, alangkah begitu mulianya seorang wanita shalihah. Bayangin aja! Jika dibandingkan dengan perak, emas, intan, berlian dan segala macamnya yang harganya selangit itu, dia jauh lebih mulia. Kecantikannya tak lekang oleh waktu. Selama menjaga keshalihan-nya, ia cantik. Sangat cantik dimata Allah dan Rasul-Nya hingga membuat para bidadari surga iri.

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu,”

HR. Al Bukhari no. 136 & Muslim no. 246

Nggak peduli gimana bentuk wajahmu, akan tampak bersinar di mata Allah dan Rasul-Nya jika dibasahi oleh air wudhu. Nah, lho? Apalah guna tampil cantik di mata manusia tapi tidak di mata Allah? Sia-sia bukan?

“Sesungguhnya kebaikan itu membuahkan semburan cahaya di wajah, lentera di hati, meluasnya rezeki, kuatnya badan, rasa cinta di hati orang. Dan sungguh dalam keburukan terdapat kepekatan di wajah, kegelapan di kubur, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati orang.”

-Abdullah bin Abbas-

Resapi, hayati dan renungkanlah perkataan sepupu Rasulullah di atas. Agaknya singkat, namun sarat akan makna. Dua kalimat tersebut sanggup mematahkan anggapan masyarakat sekaligus membuat kamu merasa termotivasi untuk memperbanyak kebaikan dan memperbaiki akhlak tentunya. Cieee… kamu nyatanya mempunyai inner beauty. Kecantikanmu mulai terpancar dari dalam. Teruslah berniat dan berbuat baik. Semoga keinginanmu terkabul. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin. Umur boleh menua, tetapi kecantikan dalam diri harus semakin bertambah setiap harinya.

—————————————————
So yeah, of course…

Nyatanya cantik itu nggak harus putih, nggak harus pakai high heels nggak harus ini, nggak harus itu…

…juga sebenarnya nggak perlu ikut tren yang aneh-aneh. Tren dan mode cepat berubah, berganti setiap musim yang baru tiba…

…ataupun terbawa arus untuk membiarkan masyarakat ‘mendikte’ dan mengarahkan atas penampilan yang dapat menjadikan kita dilirik dan terkesan menarik.

Bisa berabe dan bikin pusing tujuh keliling jika kita menuruti kehendak manusia yang cenderung tak mudah puas akan apa yang dimilikinya.

You are special, each of you…

Kamu cantik apa adanya, dengan atau tanpa make-up.

Pada dasarnya setiap perempuan memang sudah diciptakan oleh Allah untuk terlihat cantik dan memiliki daya tarik tersendiri.

Jadi, makhluk Tuhan yang paling seksi bukan cuma monopoli Mulan Jameela semata.

Nggak usah ngiri, apalagi sirik.

Kamu nggak perlu dengan bodohnya menebar harapan palsu, sengaja berbuat keburukan dan kemaksiatan hanya untuk mendapatkan julukan ‘si cantik’…

…karena cantik berawal dari hati.

Masih banyak kok, cowok di luar sana yang tidak memandang seorang cewek berdasarkan fisiknya.

Pintar-pintarlah bersyukur, jauhi larangan-Nya, dan taati perintah-Nya…

…basahi lisanmu dengan dzikrullah.

Dengan memperbanyak mengingat-Nya, maka Dia akan mengingatmu juga.

Ketahuilah, kebaikanmu dapat memancarkan kecantikan yang tak terduga.

Insha Allah,

Allah akan mencatatkanmu sebagai salah satu hamba-Nya yang mulia.

—————————————————

“Penampilan bisa menipu.

Orang yang secara fisiknya cantik, belum tentu cantik.

Bisa jadi, ia menyimpan kebusukan jauh di dalam hatinya.

Orang yang secara fisiknya jelek, belum tentu jelek.

Bisa jadi hatinya diselimuti oleh kebaikan yang tiada tara.

Ingat itu.”

-Anastasya Pratiwi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s