Before ‘n After

Langsung aja, deh…
Gue heran sama temen-temen di sekitar kita.
Masa’ iya…

Tut tut… Tut tut…

“Halo? Yen? Halo?” aku terbangun dan tersentak di tempat. Huh! Cuma mimpi… 

Sinar matahari menembus gorden merah hadiah tahun lalu. Terakhir kali aku melihat Yeni, sobat kentalku. Tawa dan candanya membayang di hadapanku saat ini. Alhamdulillah… ketemu lagi sama Lebaran yang penuh berkah ini. Berarti, Allah menganugerahkan satu bilangan umur lagi kepadaku.

———————————————————-

Assalamu’alaikum warahmatullah…
Assalamu’alaikum warahmatullah…

Senangnya bisa sholat Idul Fitri lagi, mendengarkan khotbah penyejuk hati dari sang da’i, serta sungkeman dengan orang-orang terkasih.

Namun, dari semuanya itu ada yang kurang…
…tumben-tumbennya si Yeni tak tampak batang hidungnya.

———————————————————-

Sore telah beranjak petang, begitupun petang akan digantikan malam. Semilir anginnya seakan menusuk tulang. Aku merenung di kamar sendirian, berusaha mengisi kekosongan karena orang yang kunanti-nantikan tak kunjung datang. 

Gimana nggak sebel coba? Biasanya Yeni bakalan datang ke rumah dengan sanak saudaranya dan dia akan menceritakan berbagai kisah unik kepadaku. Mungkin mimpi itu ada maknanya, tapi apa gerangan?

Mama membuka pintu kamarku pelan-pelan. Saking kagetnya, kepalaku tertengadah. “Udah mau isya’, nak. Kok kamu belum wudhu?”

“Aku… hehe. Habis ini, deh. 3 menitan juga kelar, Ma.”
“Kenapa?” aku terdiam tapi tak sanggup mengalihkan pandangan.
“Kamu kangen sama Yeni?” aku mengangguk.
“Kalo gitu, Mama tunggu, deh,” beliau melangkah keluar tanpa menutup pintu. Sementara aku masih terdiam.

“Beneran lo kangen sama gue?” tunggu! Kayaknya aku kenal banget sama suara ini. Nggak lain dan nggak bukan adalah…
“Yeni?” kepala seorang gadis berkerudung muncul dari balik pintu. Ia tersenyum.

Aku bangkit dan berlari. Dalam sekejap kami sudah berpelukan. “Ya Allah! Yeni… aku nggak percaya kalo ini kamu.”

“Terus, kalo ini bukan gue lo kirain siapa? Setan? A’udzubillahiminasy syaithonnirrajiimm… Nah! Setannya udah ilang, Mbak Bro. Don’t worry, be happy!” sekali lagi, aku tergelak mendengar candaannya yang garing itu.

Allahu akbar, allahu akbar…
Allahu akbar, allahu akbar…

“Tuh, udah adzan! Nyok, Non Angelica… Kita c’mon, kita wudhu same-same. Maju… jalan!!!” aku mengikutinya dalam tawa yang berderai-derai. I’m glad she’s okay…

———————————————————-

Pasca sholat berjamaah, situasi mendadak sunyi. Tiada lagi suara tilawah al-qur’an yang terdengar seperti hari kemarin. Suara yang ramai itu bukanlah suara cekakak-cekikik para tamu yang datang berkunjung, tapi suara TV dari ruang keluarga.

Berhubung ada Yeni, malam ini menjadi malam yang spesial. Kita seru-seruan dan cerita-cerita tentang setahun terakhir ini. Juga mengenang masa lalu yang telah kita lewati bersama. Maklum, teman seperjuangan.

“Ok, ok, ok. Ganti topik, dong! Udah nggak tau mau ngomongin apa lagi nih gue… Bibir gue dower, cenat cenut kayak marmut.”
“Terus kita cerita apa lagi, ya? Perasaan semuanya udah…,” kamar yang tadinya riuh itu menjadi hening, tenggelam dalam ketenangan malam.

“Oh, ya, Yen. Tadi aku mimpi kamu, lho…,” kataku to the point.
“Beneran lo ngimpiin gue? Di kroscek lagi dong, sist. Iya, gue tau tampang gue pasaran. Tapi ya, nggak setragis itu sampe-sampe lo ngimpiin gue,” kali ini aku bisa pastikan bahwa Yeni benar-benar shock dari nada bicaranya aja.

“Kamu bilang kalo kamu heran sama teman-teman di sekitar kita. Emangnya kenapa sih, Yen? Dari dulu mereka juga tetap sama aja…,” Yeni mengangguk-angguk.

“Ada benernya juga omongan lo…,” tangannya mengambil salah satu jajanan di toples.
“…gue emang heran sama mereka. Dari dulu mereka juga sama. Nggak berubah.”

“Kalo kamu udah ngomong kayak gini, pasti ada dasarnya.”
“Yap! Omongan gue nggak sembarangan. Nggak asal semprot. Ada juga alasannya. Gue rasa lo berhak untuk tau,” ucap Yeni dengan seriusnya.
“Ok. Aku dengerin.”

Btw, nih… Lo ngerasa nggak sih, kalo puasa ini nggak memberi efek positif buat mereka? Padahal sebulan tuh, lama. Kita dilatih ke arah yang lebih baik sama Allah. Tapi puasa masih gemar-gemarnya nyontek. Istiqamah dalam kemaksiatan. Demen-demennya nggosip dan nyebarin fitnah. Duh! Pokoknya kalo gue sebutin satu-satu, pasti nggak bakalan kelar sampe akhir jaman!”
“Aku dari dulu udah tau kok, Yen,” jawabku seadanya, tak terkejut dengan uraian panjang lebar Yeni.

“Pertanyaan terbesar gue tahun lalu nih, apakah mereka akan berubah pasca ramadhan? Nyata-nyatanya nggak. Malah tambah parah. Please deh! Di bulan suci Ramadhan aja berani menghalalkan segala cara, apalagi di bulan biasanya. Setan-setan udah dibelenggu lho, hawa nafsu yang menentukan. Sayangnya, semua itu disalurkan dalam kesia-siaan. Selain heran, gue kasihan aja sama mereka. Kok nggak takut sama yang namanya dosa? Dosa kecil, kalo terus-terusan juga sama efeknya sama dosa besar,” aku tertegun. Baru kali ini aku mendengar kata-kata bijak dari Yeni. Yeni yang selama ini kukenal kocak dan tak kenal serius, kini merenungi suatu masalah dengan kritis.

“Benar juga perkataan kamu. Aku juga ngerasa aneh. Di bulan Ramadhan semuanya seakan berlomba-lomba berbuat kebaikan karena diming-imingi pahala sepuluh kali lipat dan peluang mendapatkan lailatul qodar. Setelah satu bulan terlewati, semua kewajiban dan perbuatan baik ditinggalkan. Jika seorang hamba tidak sibuk dalam ketaatan, pasti ia sibuk dengan kebathilan. Astaghfirullah,” dari sudut mataku, aku bisa melihat senyuman Yeni yang mulai merekah.

“Gue lega sekarang. Lo udah sadar akan realita kehidupan. Mulai detik ini, nggak ada lagi contek-menyontek.  Tolong menolong dalam kebaikan. Nggak ada lagi nggosip. Jaga mata, jaga telinga, jaga lisan, jaga hati, jaga semuanya dari perbuatan dosa sebisa mungkin. Gimana? Setuju, kan?” aku mengangguk dan meneteskan air mata.

Malam ini adalah malam penuh rahmat
 Malam dimana Engkau datangkan seorang sahabat

Yang mengajakku meninggalkan yang sesat
Serta berbuat yang bermanfaat

Kutau hidup penuh nikmat
Namun hanya sesaat
Hanya harapan yang tersemat
Dengan sabar, tawakal, dan sholat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s