Refleksi tentang Ibu 

Selamat hari Ibu… Aku tau, emang telat banget buat ngucapin ini semua. Tapi, aku nggak bisa dengan lantang mengucapkannya di depan Ibuku (yang biasanya aku panggil Mama) seperti kebanyakan orang. Aku juga nggak nyiapin hadiah apa pun, seakan-akan menganggap hari Ibu seperti hari biasa lainnya.

Nah, lho? Aneh nggak, sih? Nggak juga. Terhitung, aku cuma pernah ngerayain hari Ibu sekali waktu masih SD. Setelah itu, udah nggak pernah lagi.

Selepas lulus SD sampai sekarang, aku berkali-kali ditawarin buat sekolah di luar kota. Akibatnya, semua aku tolak! Banyak orang yang menyayangkan keputusanku. Padahal, mereka nggak tau alasan dibalik itu semua…

Oke, kembali ke topik. Seperti semua anak terhadap Ibunya, aku pasti melabeli Mamaku sebagai wanita paling hebat dan tercantik sedunia. Nggak heran, semua anak memang sangat memuja Ibunya. Apalagi anak cowok, yang kerap menjadikan Ibunya sebagai standar jodohnya kelak. Cieee ~

Tetap saja, Mamaku punya keunikan. Gimana nggak ? Apa kamu bisa menemukan orang yang konyol, humoris, sabar, kritis, pengertian, pekerja keras, peduli terhadap sesama, rela berkorban, rajin beribadah, pekerja keras, pintar memasak, dan pemberi masukan yang baik dalam satu orang? Jarang bukan? Atau mungkin semua kriteria di atas adalah tipe idamanmu?

Selama sekitar lima belas tahun usiaku, aku mencari orang yang seperti itu. Aku sempat menemukannya. Dia cowok, yang sangat aku sayangi. Aku mengira bahwa dia adalah segalanya. Namun, dia…

…tak perlu dibahas lagi lah. Sekarang, dia telah pergi. Dia nggak pernah ingat akan janjinya dulu. Hanya perasaanku yang memang nyata kepadanya. Aku benar-benar terluka, tersiksa, sengsara, dan menderita secara bersamaan. Pekerjaanku hanya menangis, mengharap dia berbalik cinta kepadaku. Tapi semuanya omong kosong belaka.

Di saat segenting itu, keluargaku menyadari ada yang tidak beres denganku. Papa dan Mama mendengarkan cerita yang telah ‘ku modifikasi sedikit’ sambil sesekali berkomentar. Papa menunjukkan rasa tidak suka kepadanya. Sedangkan Mama mengerti apa yang menimpaku, bahkan sebelum aku bercerita. Firasatnya sungguh kuat.

Aku takjub, dengan cara Mama menangani masalahku. Tanpa ku sadari, beliau telah ku jadikan panutan sejak kecil. Ia yang bahkan hingga kini masih merawatku dengan kasih sayangnya. Benar, Mamaku lah orang yang memiliki paket lengkap itu.

Pernah dengar hadist yang menuliskan bahwa Ibu lebih utama dari Bapak? Aku jadi makin sayang sama Mamaku sejak tau hadist itu. Batinku, berarti selama ini aku merasa dekat sama Mama itu ternyata nggak salah, ya… ^.^

Mungkin, aku emang nggak nyiapin apa pun yang istimewa buat hari ini. Malah, Mamaku nunjukin tiga artikel yang sukses buat aku nangis dihadapannya. Abis, yang di bahas tentang Ibu, sih.

Pertanyaan yang dikeluarkannya pun simpel, “Kamu kenapa? Kok nangis gitu?”

“…”, aku nggak bisa jawab dan buru-buru ke belakang buat nyuci piring.

Hmmm… Kalo dipikir-pikir, kasih anak terhadap orang tua (dalam hal ini : Ibu), itu ibaratnya kasih sayang cowok terhadap cewek. Susaaaahhhh banget kalo di suruh ngomong Aku cinta padamu, I love you, Wo Ai Ni, Aishiteru, Saranghaeyo, Ich liebe dich, dan lain-lain.

Lebih gampangnya, perasaan cinta itu diutarakan dan diungkapkan lewat perbuatan. Kayak nemenin Mama makan, masak, baca buku, curhat, dll. Seenggaknya, itu yang udah aku lakuin buat Mama tiap harinya. Jadi nggak cuma pas hari Ibu aja kita memperlakukan Ibu kita dengan penuh perhatian. Karena hari Ibu itu seharusnya setiap hari!

Jangan lupa bersyukur, karena dianugerahi Ibu yang baik. Do’akan dia selalu, seperti ia selalu mendo’akanmu. Cintailah ia, sebagaimana ia senantiasa mencintaimu. Semua yang di lakukannya, karena dia ingin yang terbaik untukmu. Seorang Ibu tidak akan meninggalkan anaknya. Sekali pun di hari tua maupun maut telah menjemput, ia tidak pernah lupa sama kamu; anaknya. Janganlah malu punya Ibu seperti dia, karena dia nggak pernah malu punya anak kayak kamu.

Ibu kamu nggak kayak gebetan, pacar, mantan, pasangan; yang bisa menyakiti dan meninggalkanmu seenaknya. Bagaimana pun, dia tidak akan kuasa menyakitimu. Jika dia melakukannya, hatinya akan dihinggapi lara yang tiada terkira.

Kamu mendapat cinta untuk pertama kalinya dari Ibumu. Dia mengandung dan melahirkanmu, karena cintanya begitu tulus. Nggak seharusnya kamu nangis bombay gara-gara cinta yang bertepuk sebelah tangan. Belajarlah tegar dari Ibumu. Cintailah dengan sepenuh hati.

Ingatlah dia selalu, muliakanlah.

Jangan membangkang, dengarkan nasihatnya.

Tanamkan dalam sanubarimu, jadikanlah dia teladan yang abadi.

Insha Allah, surga bagimu dan baginya.

Iklan