Insyaf

 

jalan yang benar

“Amboi, cantiknya…” bisik cowok-cowok kelas XII yang lagi nongkrong di depan kelas saat Gina melewati mereka.

“Iya, ya, dia bagaikan foto model…” ucap yang lainnya.

“Gina, ikutan Gadis Sampul, dong!” kata Rizal, sang ketua kelas yang juga playboy.

“Iya! Sayang banget tampang dan bodimu kalo nggak difungsiin” sorak cowok-cowok Gination, fans-nya Gina. Kaum hawa hanya bisa mencibir, pertanda iri dan syirik.

“Hitung-hitung kalo menang, kamu bisa mengharumkan nama sekolah kita!” sahut Pak Kepsek dari depan kelas di sela-sela pelajarannya.

 

Biar kata anak baru, Gina sudah masuk kategori cewek idaman di SMU Bangkit ini. Bagaimana tidak? Parasnya yang cantik dan didukung dengan tubuh yang proporsional, membuat setiap mata tertuju kepadanya. Tidak ketinggalan, setumpuk prestasinya di bidang model menjadikannya tidak dapat dipandang sebelah mata. Banyak cowok yang ingin menjadi pacarnya. Tapi tiada satu pun yang memikat hatinya.

Satu lagi yang membuatnya lain daripada yang lain. Si cantik ini sangat suka membaca dan menulis. Sehingga saat terdengar kabar Ketua Majalah Bangkit disandangnya, sekolah gempar dan banyak yang memujinya. Namun, Gina tetap tenang. Di kolom wawancara pun tertulis : “Dia tak banyak berkomentar. Senyum merekah dari bibirnya. Tanda bahagia yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.”

Di balik segala kesempurnaannya, Gina menyimpan suatu rahasia. Apakah itu? Mungkinkah kemunafikan? Kebencian yang dalam terhadap suatu hal? Ataukah… masa lalu yang sangat kelam? Benar-benar tiada seorang pun yang tahu.

***

            Begitu edisi Majalah Bangkit bulan ini beredar, siswa-siswi gencar memburunya. Saling berebut dan saling sikut demi mendapatkan info terbaru. Dengan slogan baru ‘gaul, trendi, dan up to date’, majalah ini mendadak menjadi the must have item of the month. Wajah baru mewarnai edisi terbaru ini. Yang membuat heboh adalah artikel berjudul Apakah Kamu Udah Gaul? yang ditulis oleh Gina.

“Yang bikin aku heran, kamu nulis di sini kalo remaja gaul tuh nggak berhijab?” ekspresi Julaika seakan siap ngelabrak Gina.

“Ya iyalah! Kalo kamu pake hijab, gimana kamu bisa gaul? Gimana kamu bisa punya pacar? Gimana kamu bisa dianggap keren? Nanti kamu malah dijauhin lagi karena dianggap ekstrimis…” sanggah Gina santai. Sontak, wajah Julaika memerah. Ia tidak terima dengan ucapan Gina terhadapnya.

“Eh! Aku ke belakang dulu, ya… Rambutku berantakan, nih! Bedakku juga udah mau luntur! Udah ya…Dahhh!!!” tanpa permisi Gina langsung keluar dari kelas. Julaika mendengus sebal. Bukannya berhijab itu perintah Allah? Bukannya berhijab itu wajib? Emang gaul diukur dari penampilan doang? Dasar sekuler! Kalo kayak gini terus, bisa rusak akidah kita! Majalah Bangkit harus diboikot!

***

            “Lihat! Dia bisa ketawa! Di tengah penderitaan kita!” teriak Julaika gemas melihat Gina bergosip ria dengan kelompoknya di seberang kelas mereka.

“Iya. Kalo gini caranya, kita akan kehilangan arah. Kita nggak bisa mendakwahi dan menyadarkan mereka akan bahayanya pengaruh artikel-artikel di majalah ini.”

“Pak Kepsek juga gitu! Beliau nggak sanggup ngelakuin apapun! Terus kita harus gimana, dong?”

“Udahlah, guys. Sabar! Berjalan di jalan Allah memang banyak cobaannya. Pemboikotan kita memang nggak berhasil. Masih ada lagi jalan untuk mencapai tujuan itu,” jawab Fahri dengan senyuman. “Salah satu dari kita harus bicara dengannya.”

***

            “Maaf, apakah ukhti ini yang namanya Gina?”

“Hah?” Gina terkejut mendengar suara cowok di koridor. Sekolah juga sudah sepi dari tadi. “Han… han…hantu!!! Pergi aja, deh! Salah apa aku sama kamu? Sumpah…Sumpah pocong, aku nggak tau apa-apa!” perlahan Gina berbalik sambil menutup matanya. Fahri menahan tawa melihat kelakuannya yang konyol.

Ukhti, saya ingin berbicara dengan ukhti. Benar-benar penting sekali,” mata Gina terbuka. Di hadapannya kini telah berdiri seorang cowok. Ketakutannya sirna.

“Artikel ukhti sangat menyinggung kami, pendakwah di SMU Bangkit ini. Tidak seharusnya sebuah artikel menyinggung SARA. Tolong cermati lagi artikel majalah yang ada agar tidak salah terbit,”

“Oh, iya… Baik…Maaf, ya…” sambung Gina dengan senyuman. Maksudnya, agar Fahri tidak salah paham. Namun, Fahri membalasnya dengan senyuman pula. Yang mana menyisakan sejuta tanda tanya dan beragam perasaan pada diri Gina. Saat dia tersadar, Fahri sudah menghilang. Siapakah dia?, pikirnya penasaran.

***

            “Fahri,” ungkap Julaika saat bertemu Gina di kantin. “Apa?” Gina bingung dibuatnya.

“Kamu tau, kan? Cowok yang kemarin ngomong sama kamu itu namanya Fahri,” jelas Julaika to the point. “Kamu pasti belum tau namanya…” Gina mengangguk penuh semangat. Julaika tersenyum samar.

“Bilang makasih ya, ke Fahri. Aku juga minta maaf ke kamu sama pendakwah lainnya karena kalian pasti merasa tersinggung banget. Aku beneran nyesel, deh!” senyum Julaika mengembang. “Please, Julaika. Aku…khilaf. Ma…maafin aku, ya?”

“Kita udah maafin kamu, kok. Bukankah dalam Islam nggak boleh ada dendam. Apalagi dengan sesama muslim…” ucapan Julaika terhenti sejenak. “…kamu muslim, kan?”

“Iya, kenapa memangnya?” Gina kembali bingung. “Kamu kayak bukan muslim,” Gina menghela napas. Ada perasaan terhina memenuhi hati nuraninya.

“Maka…,” lanjut Julaika. Gina menyimak, menantikan perkataan Julaika selanjutnya. “…berhijablah. Tinggalkan kemaksiatan. Ketahuilah : perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaiknya. Aku tahu…kamu tertarik sama Fahri.”

***

Dear diary,

            Aku…  merasa seperti sampah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa seperti pecundang. Mereka, ya…mereka yang dulu aku benci setengah mati karena kecintaannya terhadap Allah…

            Kenapa? Kenapa aku bisa jatuh cinta sama salah satu dari ‘makhluk kloningan orang suci’ itu? Fahri. Sungguh nama yang indah buatku. Dia ramah, tampan, murah senyum, juga berprestasi lagi. Sudah lama aku menantikan seseorang yang tepat. Nggak disangka, dari banyak cowok yang matanya jelalatan ternyata ada dia.

            Mungkin aku suka dia, atau hanya tertarik. Karena dia beda, itu yang membuatnya begitu berharga di mataku. Tak seperti yang lain, dia mengingatkanku saat berbuat salah. Emang sih, cuma waktu majalah itu doang. Tapi, nggak salah kan, kalo aku berharap? ^.^

            Ucapan Julaika masih terngiang di benakku. ‘Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik’. Kalimat ini menyentuh hatiku. Seakan mengisyaratkan kepadaku bahwa Allah itu adil. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Julaika sangat baik, dia lebih dari pantas untuk kujadikan sahabat. Nasihatnya menyejukkan hati.

            Aku tak tahu soal cinta. Apakah ada seseorang di dunia ini yang mengerti definisi cinta? Menurutku, cinta hanyalah bisa dirasakan. Percuma kita berbicara tentang cinta jika tak pernah mengalaminya sendiri.

            Namun, ada satu hal yang mengganjal hatiku. Tentang hijab. Aku tak mampu, aku tak bisa. Tetapi sungguh aku mau. Keluargaku tak pernah mengenalkanku dengan dasar agama yang baik. Mereka membesarkanku dengan kebebasan pribadi. Aku sangat ingin mencintai Fahri dengan tulus. Apalah daya…aku tak berhijab. T_T

 

Gina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya sembab. Dia menangis. Baru kali ini dia meratapi nasibnya. Mengenang masa-masa penuh dosa dan kebebasan yang tak tentu arah. Sungguh, menyesal dengan segala hal yang telah dilakukannya dahulu.

Tiba-tiba dia bangkit dan menatap bayangannya di cermin. Dihapusnya air mata yang membasah di pipi. Sepi, sepi dan sendiri. Keluarganya tak peduli lagi akan dirinya. Di raihnya telepon genggam dan dicurahkanlah segala deritanya kepada Julaika. Selepasnya, dia merasa lega. Aku tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku nggak peduli apa kata orang.

***

“Ini nggak mungkin terjadi!” Rizal kecewa ketika perempuan berhijab itu berpapasan dengannya. Gina tersenyum syahdu. Akhirnya impiannya terwujud. Dia berhijab! Di langkahkan kakinya menuju musholla sekolah untuk menunaikan sholat dhuhur.

“Nah, gitu dong! Jadi tambah cakep aja!” puji Julaika.

“Ah, masa’ sih?” tanya Gina tak percaya.

“Dibilangin lagi…,” keduanya tertawa senang.

Dari kejauhan, Fahri melihat mereka dengan ragu-ragu. Siapakah perempuan berhijab yang sedang berbicara dengan Julaika itu? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Apakah dia anak baru? Tanpa sadar pandangan mereka bertemu. Gina tersenyum kepadanya seraya berterima kasih. Fahri pun membalas senyumannya.

              Subhanallah! Dia telah insyaf! Puji syukur ini kupanjatkan kepada-Mu, wahai Rabb pencipta semesta alam! Hanya Kau-lah yang mampu berbuat sedemikian rupa! Bertambahlah imanku. Betapa nyatanya mukjizat yang tampak di depan mataku ini!

               Iqomah telah berkumandang dengan merdunya. Fahri tersadar dari lamunannya dan mempercepat langkahnya untuk melaksanakan sholat dhuhur di musholla sekolah. Tak henti-hentinya menyebut nama Allah di sepanjang dzikir-nya. Tak dapat dipungkiri, bahwa dia juga mengagumi Gina. Bahwa dia juga memiliki perasaan terhadapnya. Hanya dia dan Allah yang tahu.

Biarlah ku tunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya.

Perasaanku. Rasa yang indah ini.

Aku bahagia hanya dengan melihatnya bahagia.

 

-TAMAT-

 

Iklan

Satu respons untuk “Insyaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s