Inikah CINTA???!! (Part 3)

<< Inikah CINTA???!! (Part 2)

VIII C dapat ‘undangan’ lain ke lapangan (persidangan). Pak Heri selaku hakim berdiri di depan kedua terdakwa, Angga dan Nabila. Para saksi yang dikepalai Bu Rachel mengelilingi mereka. Pertanyaannya, kalo dua-duanya terdakwa, korbannya siapa? STTT…!! Persidangannya dimulai….Harap tenang!

“Saudara Angga dan saudari Nabila, kalian divonis terdakwa akibat tuduhan berpacaran yang merupakan suatu larangan. Bukan sembarang tuduhan, kami mempunyai bukti-bukti berupa foto dan saksi mata. Jika kalian keberatan, pembelaan kami persilahkan.”

“Itu semua benar, Pak. Tak ada pembelaan,” jawab Angga dan Nabila kompak. Bu Rachel berdiri. “Maaf, Pak. Keberatan. Apakah tidak bisa situasinya lebih santai sedikit? Mereka sudah mengakui kesalahannya. Lagipula ini hanya urusan anak-anak, wajar jika mereka berbuat salah. Terima kasih,” kembali duduk setelah menyampaikan opininya.

“Keberatan saya terima. Tapi, bisakah salah satu saksi menyampaikan kesaksiannya?” Pak Heri meminta kesaksian nyata. Tanpa diperintah, Ana bangkit, lalu berjalan ke depan.

“Perkenalkan nama saya Ana. Saya salah satu saksi dari kasus ini. Pertama-tama, saya ingin mengakui bahwa selain Nabila, saya juga mencintai Angga,” Angga melihat kearah Ana. “Berkhayal tentangnya, kapanpun, dan dimanapun sudah menjadi kebiasaan bagi saya. Bahkan, saya sering dimarahi guru, ditertawakan teman, dan lainnya karenanya,” air mata mulai jatuh dari pipinya. “Saya menyadari saya kurang pantas di bandingkan Nabila untuk mendampinginya. Karena itu, saat Nabila meminta bantuan kepada saya, saya dengan senang hati membantunya. Meskipun harus saya yang menanggung sakit akibat perasaan saya sendiri,” semua orang mulai menitikkan air mata.

“Kedua, saya ikut bahagia melihat Angga bersama Nabila. Sebab, jika dia bahagia maka seharusnya saya juga. Entah kenapa, ketika saya melihat mereka saling berpegangan tangan, hati saya seakan terbakar. Hanya saja, saya ingat akan aturan agama dan sekolah yang melarangnya. Jika tidak, saya pasti sudah melakukan perbuatan di luar nalar. Terima kasih.”

Semua orang: (bertepuk tangan)

“Terima kasih kembali atas kesaksiannya, Ana. Kembali ke permasalahan. Berdasarkan putusan hakim dan kesaksian saksi mata, saya menyatakan bahwa kalian berdua bersalah. Sebagai hukumannya, kalian harus putus di hadapan saya dan seluruh sekolah. Ini adalah pelajaran terhadap teman-teman kalian agar tak mengulangi hal yang sama.”

Angga dan Nabila: (saling berhadapan)

“Ngga, makasih buat 2 hari ini..,” Nabila menundukkan kepala.

“Hmmm…,” gumam Angga, memandangi wajah Nabila.

“Kamu nerima tembakanku atas dasar cinta, kan?” Nabila menegakkan pandangannya. Angga mengangguk. “Aku nggak bakal biarin siapapun nyakiti kamu…”

“…walaupun kita udah nggak pacaran lagi? Janji?” Nabila menyodorkan jari kelingkingnya.

“Janji!” Angga mengaitkan jari kelingkingnya lalu melepaskan kaitannya.

“Kalo gitu, maaf. Kita harus putus, Ngga! Aku udah ditunangin sama ortuku sama cowok lain, dan aku baru tau kemarin!” tangis Nabila seraya berlari kepelukan Putri.

“NABILA!!!” Angga berlutut sambil berteriak histeris.

Robert: (menghampiri Angga)

Bu Rachel dan Pak Heri: (berdiri bersebelahan)

Ana: [melongo, karena bingung akan tingkah orang-orang disekitarnya dan juga cuma  dia sendiri yang sendirian; sementara yang lainnya berpasangan (?)]

 

Segera setelah pembubaran ‘persidangan’, jam kosong mengisi waktu pelajaran Bahasa Inggris. Nabila menghampiri Ana yang sedang membaca di bangkunya. Ia duduk di tempat duduk Robert dan memulai membuka mulutnya.

To the pointnya aja, yah! Kenapa lo bantuin gue dapetin cintanya si Pangeran Es, sementara lo sendiri juga suka sama dia?”

“Sebab……

Satu, kamu lebih layak buat dia daripada aku. Kedua, aku yakin aku bakalan dapat yang lebih baik suatu hari kelak. Dan terakhir, buat apa sih, kita pacaran? Bukannya nggak ada guna, terus dilarang sama agama juga?! Lagian…”

“…udah CUKUP!!” potong Nabila. “Nggak usah sok suci, pake ceramah-ceramah segala. Kita liat, siapa yang lebih baik. Lo yang dari dulu kamseupay..atau gue yang jelas-jelas lebih lengket sama cowok?! Gue sumpahin kalo lo bakal jomblo seumur hidup…Liat aja!” kata Nabila sinis seraya meninggalkan bangku Ana dengan hati yang dihentak-hentak.

“Sabar. Dia emang nggak suka diceramahin. Tapi, gue suka cara lo bikin dia sebel. Hehehe…Gue duduk di sebelah lo, deh!” Angga tanpa permisi sudah duduk disebelah Ana. Membuat hatinya berdegup kencang, tapi buru-buru ditepisnya.

“Jadi kamu pikir, kamu bisa dapetin hati siapa pun dengan mudah?! Aku memang PERNAH SUKA sama KAMU, tapi rasa itu sudah hilang. Kamu menghampiriku saat kamu butuh, dan meninggalkanku saat ku tak berguna lagi. Apakah aku ini plastik? Yang seenaknya kamu pungut dan buang lagi?!” emosi Ana memuncak.

“Ana! Gue sadar lo lebih pantas daripada Nabila. Lo mau kan jadi…”

“Nggak!”teriak Ana kencang. “Aku nggak mau dijebak sama rayuan cowok kayak kamu lagi. Cari cewek yang beneran selevel sama kamu. Hatiku sudah nggak kuat! Nggak ada guna juga bicara sama kamu! Kasihan Robert! Punya sahabat kok, kayak kamu!”

Ana beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar kelas. Dibelakangnya, Angga masih membuntuti sambil memanggil-manggilnya. Namun, Ana tak menghiraukan panggilan Angga. Rasa menggebu-gebu itu telah hilang. Menjadi kenangan yang hanya ia tahu sendiri, seberapa sakit yang dirasakannya.

Robert yang melihat kejadian itu segera menghalangi Angga. “Jangan deketin Ana!”

“Minggir! Lo ngapain?!” Angga marah. “Apa kamu nggak tau banyaknya waktu dan air mata yang dihabiskan Ana buat mikirin kamu, doang?! STOP, Angga! Hentikan nafsu gilamu itu! Jangan buat dia menitikkan air matanya!” marah Robert kepada sahabatnya itu. Angga hanya bisa berlalu dan menatap dengan tatapan ‘Ok, mulai sekarang lo gue anggap musuh!’

“Na, kamu nggak apa-apa, kan? Sampe keringetan gitu…,” Robert menenangkan perasaan Ana dan melangkahkan kakinya menuju Ana. Ana hanya menggelengkan kepala.

“Na….Apa aku nggak apa-apa minta kamu selalu disampingku? Dan, apakah aku terlalu egois kalo bilang ‘Aku benar-benar…menjagamu selamanya, jika kamu menerimaku apa adanya?’” pandangan Robert hanya tertuju pada Ana.

Di kejauhan, tampak sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua. Ana mengangguk kepada Robert. “Ada yang lebih pantas untukmu. Dan, dia berada tepat dibelakangmu,” Robert mengedarkan pandangan kebelakang. Tampaklah Putri yang matanya sudah berkaca-kaca.

“Tapi, bagaimana denganmu?” ratap Robert kepada Ana iba.

“Setidaknya, aku masih mempunyai keluarga yang dapat menjagaku. Pergilah! Dia orang yang tepat! Jangan pedulikan aku,” Robert segera menghampiri Putri. Kini, tinggal Ana yang sendirian. Dia menutup matanya perlahan-lahan.

Dan….Ia sudah berada ditempat tidurnya dengan posisi duduk, rambut kusut, dan jam yang telah menunjukkan pukul 17.30. “Jadi, itu semua hanya mimpi? Mengapa aku selalu bermimpi cerita yang sama? Padahal itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu? Aneh sekali…”

Tanpa menunggu lama, tangannya langsung mengambil buku diary dan pulpen yang berada disampingnya. Ditulisnya sesuatu…

“Dear diary,

Entah mengapa aku selalu bermimpi tentang masa laluku itu! Masa lalu yang membekas dihatiku dan rasa sakitku yang masih terasa hingga kini. Kutahu, untuk menghilangkannya aku harus mencoba untuk melupakan dan membuka lembaran cinta yang baru. Ah, diary! Aku bingung! Apa yang harus aku lakukan?!”

“Bahkan di umurku yang akan beranjak 17 tahun ini, masih belum ada seorang laki-laki pun yang sanggup membuatku untuk merasakan hal yang… Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Mungkin….CINTA???! Segalanya berujung pada ketidakpastian. Huh!! Aku tidak ingin diejek  lagi. Tapi aku juga tidak ingin melanggar perintah agama. Aku BIMBANG!!”

“Akhirnya,” kata Ana lega. Meskipun dirasanya masih kurang sesuatu… “Aha!!” soraknya. Mulai menulis lagi.

 

            “Cinta pertama itu sulit dilupakan. Begitulah kata orang.Tidak denganku. Kenanganku tentangnya begitu pahit dan menyakitkan hati. Yang kuingat, hanyalah saat ia mematahkan hatiku. Dia…hanya menganggapku saat dia butuhkanku. Dan, membuangku layaknya sampah yang tak berguna.”

“Ih! Apa sih, yang aku pikirkan?! Dia lagi, dia lagi!!!” karena kesal, ia merobek dan meremas-remas kertas. Benda itu mendarat tepat di tempat sampah. “Kali ini aku harus nulis yang lebih bermakna daripada sebelumnya. Tapi tetap bernada galau! Sekarang kan, jamannya ‘Sakitnya Tuh Disini’ ! Nulis tentang itu aja, deh!”

            “Sakit hanya membuat orang merasa sakit, pada awalnya. Tetapi, hal yang tidak pernah mereka sadari adalah berkah dari kesakitan itu sendiri. Mereka menambah pengalaman dan berusaha agar tidak mengalami hal yang serupa. Adakalanya mereka mengalami trauma berkepanjangan. Hal itulah yang harus kita hindari. Namun, bagaimana jika itu yang kurasakan selama ini? Akankah ada seseorang yang menyadarkanku dari rasa sakitku ini?

“Lumayan juga!” gumam Ana kagum. “Nah! Sekarang waktunya mendengar musik!” Ana meraih hp dan memakai headset ditelinganya. Kemudian, terjadilah kejadian yang tak terduga. Belum semenit Ana tenggelam dalam alunan musik yang diputarnya, diterimanya pesan dari seseorang. Buru-buru dihentikannya musik yang mengalun keras itu.

Dari: Anak Nyebelin (jangan dianggap)

Hai, Na! Gimana kabar lo? Kaki lo nggak apa-apa, kan?! Cepet masuk, ya! Inget! Nggak ada lo nggak rame! Cius…Eh, duarius aja, deh!!! Hehehehe….

*****.

“Kok dia?! Sudah begitu nggak jelas lagi! Bikin tambah galau aja!!” Ana merasa perasaan yang janggal telah menjangkiti hatinya. Tiba-tiba terbayang wajah dan senyumannya. Membuat Ana senyum-senyum sendiri. Setelah cukup sadar, ia membelalakkan matanya. “Ya Tuhan. Nggak mungkin!! Aku sama dia kan, beda banget!! Inikah CINTA???!!”

“Beberapa hal kecil bisa membuat manusia berbeda. Tetapi, itu tidak mencegah kedua insan untuk saling bersahabat, menyayangi, dan menyatukan hati. Sebab, tiga hati takkan menorehkan cinta yang abadi. Sedangkan, persatuan kedua hati membuatnya melengkapi kekurangan-kekurangan diri, sehingga kasih sayang akan terasa dan selalu ada.”

-TAMAT-

Iklan

5 respons untuk ‘Inikah CINTA???!! (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s