Inikah CINTA???!! (Part 2)

<< Inikah CINTA???!! (Part 1)

Sore harinya, Robert bermain ke rumah Angga. Dirinya yang biasanya banyak berbicara, kini menjadi murung. Teringat jelas di ingatannya, apa yang terjadi di sekolah hari ini. Angga ikut galau karena sahabatnya yang selalu menghiburnya, tiba-tiba kalut.

Angga: (memandangi wajah Robert yang kusut)

Robert: (melirik Angga dengan sinis sambil menggaruk-garuk kepalanya)

“Rob, semangat, dong! Jangat cemberut melulu! Senyum! Kalo nggak, nanti lo cepet tua, lho! Dan, kalo udah keburu tua, nggak ada cewek yang mau sama lo! Emang lo mau ngejomblo terus? Nggak, kan? Ayolah, Bro,” ucap Angga dengan penuh semangat sambil merangkul Robert.

“Senyum? Kayak gini, nih??” Robert pun tersenyum pahit. “Nggak! Aku nggak mau!!” Robert menghempaskan tangan Angga dan menekuk mukanya kembali.

“Yaelah! Lo sarapan apa sih, kok bisa jadi kayak gini? Makan sambalado 10 kilo buatan Emak lo, ya?” Angga berbicara sendiri dan memasang muka galau stadium akhir.

Tak ada angin dan tak ada hujan, Putri langsung seenaknya masuk kamar Angga. Ternyata, dia baru selesai buat biskuit yang kelihatannya lezaaat…sekali! Ah, membuat perut jadi lapar saja.

“Permisi. Ada yang laper, nggak? Kalo nggak nanti gue kasihin anjing gue aja,” kata Putri dengan gaya centilnya.

“Ah!” teriak Robert marah. “Put, kamu ngapain di sini?” melirik biskuit buatannya. “Aku nggak laper, kok! Kasihin anjingmu aja, deh!”

“Robert! Lo nyebelin bingits! Seenggaknya nyoba dikitlah!” Putri mulai sesenggukan “Asal lo tau, ya….! Karena Angga bilang lo bakalan kesini hari ini, gue buatin biskuit-biskuit ini buat lo. Tapi apa balesannya? Lo nggak ngehargai gue! Semuanya sia-sia!” Lalu, Putri bersiap-siap melangkah keluar kamar.

“Lo tuh emang berubah banyak! Kemaren lo banyak omong, ramah. Tapi sekarang, mulut lo kayak dilakban berlapis-lapis, udah gitu marah-marah nggak jelas sama sepupu gue, lagi! Bener-bener, deh! Lo kesambet apaan, sih?! Bingung gue jadinya,” Angga geleng-geleng kepala dan mengeraskan suaranya.

Robert: (tanpa banyak bicara, langsung mengambil dan menghabiskan biskuit-biskuit sampai tak ada yang tersisa sedikitpun)

Putri: (tersenyum-senyum sendiri)

Angga: (melihat Robert dengan heran, seakan-akan takut kalau ‘sesuatu’ yang tak diinginkan terjadi padanya)

Selanjutnya, ‘sesuatu’ kejadian konyol menimpa Robert…

“Ngga, kayaknya tadi gue salah masukin bahan, deh!” cuap Putri dengan muka tak bersalah. “Yah! Lo gimana, sih?! Gitu kok ngasih aja!” jawab Angga sewot sambil memandang Robert yang tidur dengan tatapan aneh.

Perlahan tapi pasti, Robert terbangun dari tidurnya. Ia  merintih kesakitan sembari memegangi perutnya. “Aduh! Perutku!” Putri dan Angga memapah Robert sampai ke kamar mandi.

Tetap di rumah Angga, sore sudah berganti malam. Angga yang duduk di tepian tempat tidurnya membayangkan kejadian yang dialaminya di sekolah. Dia tersenyum sendiri.

“Nggak gue sangka, selama ini lo suka sama gue, Bil!” katanya seorang diri seraya memegang surat cinta. “Gue kira, lo nganggap gue anak nggak jelas. Makasih! Meskipun gue keliatan biasa aja di depan lo, gue ngerasa keren banget bisa jadi pacar lo. Nggak bakalan gue biarin apa pun misahin kita,” dirinya berbaring dan menaruh surat di sebelah tempat tidurnya.

Esoknya di kelas, samar-samar terdengar Putri dan Nabila sedang mengobrol di tempat duduk mereka. “Selamat, Cin! Lo berhasil dapetin hatinya si Angga! Dan lo juga berjanji, kalo udah dapet, lo bakal nyariin buat gue. Nah! Bantuin gue, dong!” bujuk Putri sambil menarik-narik rambut Nabila.

Merasa terganggu akan ulah Putri, Nabila menjawab “Iya, Cin. Tanggung beres, deh. Tapi, jangan narik-narik rambut gue, dong! Emang lo suka siapa? Pilihan lo kan yang paling sip!” Putri pun melepaskan tangannya dari rambut Nabila. Sebelum Putri menjawab, Robert lebih dulu masuk kelas.

“Teman-teman, karena Bu Rachel dan Pak Heri ada rapat penting mendadak, terpaksa

kita dipulangkan. Nggak boleh ada yang tetap di sekolah. Kecuali yang piket, lho, ya! Silahkan pulang sekarang, dan semoga sampe di rumah dengan selamat,” pidato Robert panjang lebar, padahal biasanya dia hanya bicara seperlunya saja.

 

Putri dan Robert pulang terlebih dahulu. Sementara yang lainnya tetap berada di sekolah karena tugas piket. Tetapi, kali ini berbeda dari piket sebelumnya.

Ana: (menyapu seraya memandang Angga dan Nabila diam-diam)

“Gemes, deh! Pas kecil lo imut banget!” puji Angga tulus sembari mencengkram foto Nabila kecil.

“Oh, jadi maksud lo dulu gue item bingits? Terus, sekarang gue amit-amit gitu?” Nabila menganggap rayuan Angga terlalu serius.

“Buat gue, lo selalu cantik, kok!”  gombal Angga, mengembalikan foto dan memberi surat.

“Lo bisa aja, deh!” menanggapi gombalan kekasih hatinya, lalu memasukkan foto dan surat ke dalam tasnya.

Angga & Nabila: (tanpa permisi, langsung berjalan beriringan keluar kelas)

“Sialan! Aku ditinggal!”  umpat Ana seraya mengembalikan sapu pada tempatnya dan mengintip dari balik pintu. Perasaannya menjadi semakin sakit melihat mereka saling bergandengan tangan. Kedua sejoli itu perlahan hilang dari pandangannya. Ia berjalan pulang dengan muka sembab.

Pada sore hari di rumah Nabila, tampak ia sedang membaca surat cinta dari Angga dengan serius. Dia sangat menyukai surat itu karena wanginya harum semerbak. Dipeluknya surat itu.

“Angga, aku cinta sama kamu. Tapi, apa cinta kita bakalan tahan lama kayak wangi surat dari kamu? Tapi…,” tanpa sebab, Nabila menangisi dirinya sendiri hingga ia tertidur pulas.

Wah! Wah! Kira-kira apa ya, yang terjadi pada Nabila? Akankah hubungannya dengan Angga bertahan hingga titik darah penghabisan? Atau malah Ana yang mendapatkan cintanya? Hmmm, jadi makin penasaran…Lanjut!

Berikutnya, malam telah berganti pagi. Anak-anak VIII C SMP Harapan Nusa kembali menjalankan rutinitas seperti biasa. Karena Nabila belum datang, Putri mendekati Ana yang sedang membaca buku. Ia menyuruh Ana duduk di kursi Nabila.

“Denger, ya! Gue nggak punya masalah sama lo! Tapi, kenapa lo selalu buat hidup gue jadi nggak tenang, sih?!” Putri berkata kepada Ana dengan nada marah.

“Put, aku tau  kita emang nggak terlalu dekat. Tetapi, apa salahku?”

“Udah, deh! Gak usah berlagak bego! Ayo, ngaku!” bentak Putri, tak sabar. Ana berpikir dan berpikir. “Aku benar-benar nggak ngerasa salah ke kamu. Eh, sebentar. Aku tahu! Kamu suka, ya, sama Robert? Dan, kamu mau aku bantuin kamu buat deketin dia?!”

Putri langsung mencubit lengan Ana. “Nah! Lo sendiri juga udah tau! Jadi, tolong jauh-jauh dari Robert! Kalo nggak…hmmm…liat sendiri yang bakalan lo dapetin!”

“Siapa yang disuruh jauh-jauh dari aku?” tiba-tiba muncullah orang yang sedang dibicarakan, tidak lain dan tidak bukan adalah…

“Rob…Robert?!” gumam Putri tak percaya. Sontak, Ana pun berdiri, memegang pundak Robert dan mendudukkannya di sebelah Putri. “Rob, kamu di sini sama Putri, ya! Aku mau bantuin Pak Heri. Jagain Putri!”

“Hmmm….” Putri gugup dan menatap Robert lama, lalu membuang muka. Sementara, Robert hanya meliriknya sekilas dan membiarkan keheningan yang tercipta melingkupi suasana.

Jam istirahat, perasaan Ana semakin terbakar akibat melihat kemesraan Angga dan Nabila.

Angga: (menyuapi Nabila tetapi nyatanya dia makan untuk dirinya sendiri)

“Angga!! Sini kamu!” Nabila mengejar Angga yang tertawa terbahak-bahak.

Putri & Robert: (berjalan menuju Ana sambil tertawa terbahak-bahak)

“Ana, makasih udah deketin aku sama Putri. Anaknya asyik! Nggak nyesel lagi, deh!”

“Buat ngerayain baliknya sisi ngocol gue sekalian menghibur orang, ada candaan lucu, nih!”

“Apa?” ucap Ana dan Robert hampir bersamaan.

“Gimana rasanya kalo kita mau bersin tapi nggak jadi?” lawak Putri tanpa berekspresi.

“Hahahahahahahahahaha!!!!!” tawa merebak dari mulut Ana, Robert, dan Pak Heri.

“Lho?! Bapak kok tiba-tiba ada di sini??!” kata Ana dibarengi ekspresi kaget dari ketiganya yang melihat Pak Heri berada tepat di sebelah Robert.

“Saya…Hahaha….lagi..ha…mengawasi. Apakah….hahahaha…ada yang…..hahaha…melanggar aturan! Dan ternyata..,wkwkwkwkwk….hihihi…huhuhuhuhu….sudah..ada yang….hohoho…melanggar. Mereka….hehehehe….akan meneri….hahihuheho…ma ganjarannya,” jawabnya sembari berjalan meninggalkan ketiga muridnya dengan masih tertawa-tawa.

Ana, Putri & Robert: (saling berpandangan dan tertawa lebih keras dari sebelumnya)

-Bersambung-

Inikah CINTA???!! (Part 3) >>

Iklan

2 respons untuk ‘Inikah CINTA???!! (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s