Inikah CINTA???!! (Part 1)

Di bawah rimbunnya pohon yang terletak di tengah-tengah SMP Harapan Nusa, duduklah seorang gadis bernama Ana dengan sebuah novel yang berada di tangannya.Pikirannnya terhanyut akan cerita novel tersebut yang menceritakan tentang cinta sejati. Perlahan, dia menutup buku kesayangannya itu. Dan, ia mulai berkhayal.

“Kapan ya, aku bisa seperti cerita dalam novel ini? Apakah perasaanku kepadanya akan menjadi seperti itu? Hmmm….,” ucapnya dengan nada galau. Ia menengadahkan kepalanya kembali. Pandangannya pun menerawang ke langit biru. Membayangkan sosok yang telah mencuri hatinya.

“Ah, Angga! Senyumnya! Wajahnya! Seakan menggetarkan jiwa siapapun yang memandangnya!” racau Ana dengan keadaan masih ‘berkhayal’. Ana berdiri dan berjalan gontai menuju kelasnya dengan pikiran yang sangat kosong.

Tiba-tiba…

“Hai Ana!” sapa Angga sambil berlari dan menyunggingkan senyum.

“Oh, ya ampun! Dia menyapaku! Akhirnya dia menyapaku! Yey! Hore!” teriak Ana histeris sambil melompat-lompat senang.

Lalu….

“Ouch!” secara tak sengaja, Ana terjatuh dari kursi. Melihat kejadian yang mengocok perut tersebut, spontan Nabila dan Putri tertawa terbahak-bahak sembari mengejek. Bu Rachel, sang wali kelas geleng-geleng kepala melihat tingkah muridnya yang satu itu. Angga yang memang cuek hanya melihat sebentar, kemudian melanjutkan tugas yang diberikan.

“HU!!! Makanya jadi anak jangan ngayal terus, dong! Mentang-mentang anak kesayangan guru gitu….Buat lo jadi bisa seenaknya sendiri?” ejek Nabila sambil tertawa sinis.

“Tau’, tuh! Lo tuh udah jelek, kebanyakan tingkah lagi! Mana ada cowok yang suka sama lo?” cibir Putri, satu-satunya pengikut setia Nabila.

“Mau kubantu?” Robert si ketua kelas sekaligus teman sebangku Ana mengulurkan tangan.

“Nggak, makasih..” kata Ana seraya bangkit dan tersenyum kepada Robert.

“Iuh!!” Putri melengos dan memutar tubuhnya. Rasa cemburu membara di hatinya.

“Sudah-sudah….Ana dan Robert, tolong kembali ketempat duduk kalian,” perintah Bu Rachel.

“Baik, Bu,” Ana dan Robert pun kembali ketempat duduk masing-masing.

“Jadi, semua itu cuma khayalan?” Ana berbicara pada dirinya sendiri.

“Sudahlah, Na. Kamu terlalu banyak berkhayal,” jawab Robert sambil melirik Ana sekilas.

“Ya. Kurasa begitu,” Ana memandang Robert sambil mengangguk-angguk. Pelajaran pun di lanjutkan kembali.

Saat jam istirahat, secara tidak di duga-duga kelas VIII C dikumpulkan mendadak di lapangan. Semua murid dan Pak Heri mengeluh karena panasnya cuaca. Lho?! Kok jadi kayak gini, ya, ceritanya? Dari pada jadi tambah khayal….yuk, kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.

“Saya tidak mau kebanyakan ‘cing-cong’ lagi. Banyak hal yang menjadikan remaja di pandang negatif di mata publik. Tidak bisa dibiarkan. Harus ada yang bisa membongkar tradisi ini!” pidato Pak Heri panjang lebar selaku Kepsek. Perlu di ketahui, Pak Heri ini dulunya adalah lulusan sekolah hukum. Berhubung beliau tidak bisa menjadi jaksa (cita-cita nomor satunya) akhirnya ia selalu berpidato sedemikian rupa. Akhir-akhir ini, rupanya guru ter-killer ini terobsesi slogan TOP Coffee. Bahkan, karena udara terlalu panas, hanya dirinya yang menyejukkan diri dengan kipas. Hadeuhhh…

“Maaf, Pak. Bukannya saya melarang Anda atau apa, tapi bisakah Anda mempercepat proses pengarahan ini? Karena sesuai pepatah ‘lebih cepat, lebih baik’, Pak,” tegur Bu Rachel halus.

“Iya, Pak! Panas, nih!” keluh para siswa serentak. Merasa terpojok, Pak Heri langsung sadar seketika. Beliau memandang ke arah siswa dan Bu Rachel. “Ada peraturan baru yang ingin saya tetapkan. Peraturan ini akan menjadi yang paling saya tekankan. Keputusan saya… ‘Tidak ada murid yang boleh menjalin ikatan asmara dengan cara apapun, alias DILARANG BERPACARAN!!!!’” vonis Pak Heri seraya mengetok palu sebanyak 3 kali.

Reaksi dari:

Bu Rachel: “Hmmm….” (melihat anak-anak didiknya)

Robert & Angga: (pura-pura tidak peduli, padahal hati mereka serasa tersayat)

Nabila & Putri: (berpelukan) “O-M-G!!!!”

Ana: (melihat punggung Angga dengan lesu)

Kembali di kelas, larangan berpacaran tak membuat perasaan Ana terhadap Angga sirna. Hanya dengan melihatnya saja, Ana sudah merasa dunia ini hanya miliknya dengan pujaannya itu. Berarti, yang lain ngontrak, dong? Sekali lagi….ia memikirkan…Angga. Tak lama kemudian Nabila mendekati dan mengibaskan tangannya di depan wajah Ana sembari berkata, “Woi, Na! Ha…to the…lo!!! Lo denger gue nggak? Gue butuh bantuan lo, nih! Penting bingits!”

Ana yang baru sadar dari lamunannya pun gelagapan,“Hah?! I-iya? Kenapa?” Nabila yang kesal, bersendekap dan mendengus, “Dasar dewinya dunia khayal cap pikun. Percuma kalo gue jelasin sekarang,” ucap Nabila sewot dan penuh misteri. Ana berusaha menerka-nerka apa yang terjadi dengan Nabila. Terbersitlah sebuah pemikiran yang dirasanya tepat.

“Jangan-jangan, kamu suka, ya, sama seseorang?” tanya Ana penasaran.

“Ada benernya, sih! Jadi, gue cocok nggak sama si Pangeran Es?” tanya Nabila balik sambil memegang tangan Ana lembut. Ana menegakkan pandangannya karena terkejut akan pengakuan Nabila, tetapi ia buru-buru menjawab pertanyaan Nabila “Kamu sama Angga?! Cocok, cocok….,” padahal di benaknya ‘Ih! Lebih cocok aku sama dia lagi!’

“Kalo gitu, lo bisa kan, bantuin gue buat surat cinta? Tolong, dong! Seantero sekolah juga tau lo tuh murid yang palingnya-paling…puitis,” puji Nabila dengan pandangan berbinar-binar.

“Itu bisa diatur,” jawab Ana pelan, menyadari bahwa Nabila lebih pantas dari dirinya untuk Angga. “Tapi, aku yang dikte. Kamu, ya, yang nulis dan menyampaikan pesannya sendiri? Nanti kalo aku yang melakukan semuanya, aku lagi yang dikirain suka sama dia,” lanjutnya, secara tidak sadar mengakui perasaannya sendiri.

“Sip! Makasih. Lo baik, deh!” Nabila berterima kasih kepada Ana.

Kringg!! Bel istirahat kedua berbunyi. Nabila menunggu teman-temannya keluar. Setelah dirasa sepi, ia meletakkan surat cinta beramplop merah di atas meja Angga. Dengan harapan, perasaannya akan di balas oleh Angga. Penasaran tidak apa yang akan terjadi selanjutnya? Pantengin terus dan jangan kemana-mana!

Istirahat selesai, para siswa menuju tempat duduknya masing-masing. Nabila tersenyum palsu kepada Ana. Sementara itu, yang disenyumi malah mengacungkan jempol. Begitulah hati Ana. Hatinya masih sangat polos, sehingga gampang dibodohi.

Disisi lain…Angga terkejut, lalu memalingkan wajahnya kearah Robert.

Bro, lo ngerjain gue, ya? Apaan nih? Norak abis!” perkataannya disambut dengan gelengan Robert. Angga melanjutkan perkataannya. “Tapi…, ASLI nggak bohong! Bahasanya ngena hati banget! Kesannya suasana hati gue jadi mellow gitu! Yang bikin nih surat pasti romantis!! Berani taruhan, dah! Dia yang selama ini gue nanti-nanti! Akhirnya…”

“Eh, Ngga,” Nabila berjalan ke arah Angga yang menatapnya dalam diam. “Sebenernya, gue lho, yang buat itu. Jadi…” tanpa banyak bicara langsung berlutut di hadapan Angga yang bengong. “…lo mau kan jadi pacar gue?”

“Cie….Yang lagi dimabuk cinta,” Putri memanas-manasi sambil mencuri pandang kearah Robert. “Rob, ijin ke kamar mandi, ya!” ucap Ana cepat, tak kuat melihat kejadian tersebut.

Sontak, Robert berteriak, “Ana!”

“Yo’i. Dengan senang hati,” jawaban tidak terduga keluar dari mulut Angga.

Suasana di kelas menjadi gaduh. Robert yang tak tahan berinisiatif menjemput Bu Rachel. Di tengah jalan, ia tidak sengaja melihat Ana yang sedang curhat kepada Bu Rachel. Robert bersembunyi di balik tembok.

“Sudahlah, lagipula masih ada banyak cowok lain di dunia ini,” Bu Rachel memeluk Ana dan menenangkan murid kesayangannya itu. Ana yang air matanya masih mengalir menjawab, “Tapi, dia satu-satunya buat saya, Bu.”

“Tidak seharusnya kamu menangis akibat urusan cinta. Kamu masih muda, belum cukup umur untuk memikirkannya. Jalanmu masih panjang. Sekarang, usap air matamu dan kembali ke kelas. Robert pasti sedang mencarimu,” kata Bu Rachel bijak.

“Baik, Bu. Terima kasih atas nasihatnya,” Ana mengusap air matanya dan berjalan ke kelas. Tak lama, Robert keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat Ana hingga tubuhnya lenyap di balik pintu kelas. Perlahan, Bu Rachel berjalan menuju Robert, “Rob, saya ada urusan sebentar. Bisakah kamu menggantikan saya mengurus teman-temanmu?”

Terkejut karena Bu Rachel tiba-tiba berada di sampingnya, ia menjadi gagap, “Ba…ba…baik, Bu. A…akan sa…saya lak-sa-na-kan!!” Sementara Bu Rachel berjalan pergi, Robert memegangi dadanya sambil beringsut duduk, merasa bingung akan perasaannya yang menggebu-gebu, “Ya Tuhan! Apakah aku?!”

-Bersambung-

Inikah CINTA???!! (Part 2) >>

Iklan

Satu respons untuk “Inikah CINTA???!! (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s